Roller Coaster

2009 March 15
by Meidya Derni

rollercoasterLet’s talk about married!”  Saya dan Judith yang duduk bersebelahan berpandangan, tak lama melempar senyum. Lalu kami saling merangkul, tertawa lepas.  Disana Yuko yang berasal dari Jepang tersenyum malu-malu.  Mariam menutup wajahnya dengan telapak tangan. Keela menghirup aroma tehnya dalam-dalam, pura-pura tak mendengar. Nayla bersembunyi memeluk putranya. Diane dan Theda berpandangan, tersenyum geli melihat gaya kami.

”Ayo kita dengarkan apa yang akan Diane sampaikan tentang pernikahan.”  Theda  sebagai tuan rumah pertemuan International Ladies Tea Group bersuara.

Kami pun diam, menahan pikiran yang mulai nakal dengan senyum simpul. Memang masalah pernikahan selalu menarik untuk dibicarakan, walaupun itu malu-malu. Takut membuka rahasia, tetapi ingin berhasil.

”Saya tahu setiap kita yang hadir disini  pastilah dulu masing-masing memiliki mimpi tentang pernikahan.” Diane, wanita  Amis  yang berusia 50 tahun itu memulai materinya.

”Yach seperti fairy tale,” cetus saya.     Yang hadir menarik nafas panjang sejenak lalu bersuara, ”ah…,” meletakan tangan di dada, tak lama tawa pun pecah.

Padahal sebenarnya saya bermaksud serius, kenyataanya memang demikian. Banyak wanita saat menikah membawa daftar  harapan. Beberapa ada yang tidak realistis, beberapa fantasi yang di dapat dari film, buku, TV dan lain sebagainya.

”Ya, benar.” Suara Diane menghentikan tawa wanita-wanita dari berbagai bangsa yang hadir di pertemuan tersebut. ”Ketika kenyataaan tak sesuai daftar harapan tersebut, wanita mulai berpikir menikah dengan orang yang salah. Dan dengan setiap kekecewaan tersebut wanita mulai berpikir pernikahan tersebut tidak akan berjalan.” Hanya suara Diane yang terdengar, yang lainnya menyimak dengan tekun.

Mendengar penuturan Diane, saya merasa dia sedang membaca sejarah saya. Diane seakan membuka lembaran-lembaran buku awal pernikahan saya. Masa-masa yang saya lalui dengan derai airmata. Masa-masa dimana saya merasa sendiri terasing di negeri asing.

Saat dimana saya terkejut dengan kedasyatan roller coaster yang saya tumpangi. Ya, buat saya pernikahan itu seperti duduk di bangku roller coaster yang panjang, bergerak lincah tak tahu kapan berhentinya. Jungkir-balik, naik-turun, cepat-lambat. Mendebarkan, serasa jantung akan copot. Bebas menjerit sesukanya tidak ada yang protes.  Asik, takut, menantang, puas.

Saat menanjak perlahan, berada di titik tertinggi lalu dijatuhkan dengan cepat. Tubuh lemas seketika ingin segera berhenti. Tetapi ternyata laju kereta itu semakin cepat jungkir-balik, tak perduli dengan teriakan. Lalu melambat sesaat, siap-siap diputaran berikutnya. Kereta akan meluncur turun-naik bergelombang tak tentu.

Masih saja penumpang terkaget-kaget dengan kejutan, walaupun sebelum naik sudah menonton penghuni sebelumnya. Sudah diberitahu oleh petugas, sudah diperingati dengan tulisan tinta merah besar-besar. Dilarang naik untuk yang punya penyakit jantung. Pasang sabuk pengaman jika tak ingin jatuh.

Begitu pula dengan pernikahan, walaupun sudah mempersiapkan diri sejak duduk di bangku kuliah tetap saja masih terkejut. Ilmu-ilmu seminar keputrian yang rajin diikuti, majalah-majalah, buku-buku bahkan tarbiyah dari murobbi tak mempan.

”Nikah itu indah.  Ibadah. ½ Dien. Mengikuti sunnah.” Itu yang selalu didengungkan di telinga para akhwat. Tak pernah diceritakan kalau nikah seperti naik roller coaster, harus siap dijungkir balikkan.  Siap muntah-muntah, kapok bahkan mati jika terjatuh.

Tetapi tak perlu takut mencoba karena ada petugas yang mengawasi laju roller coaster tersebut. Percaya saja pada disainer yang sudah memperhitungkan panjang lintasannya. Percaya saja pada ahli mesin yang sudah menghitung rumit setiap sudut-sudutnya. Percaya saja dengan pencetus ide tersebut.

Marriage was God’s idea. He designed it. He made men and women different so that we would compliment each other. It wasn’t good for man to be alone, so he made a partner.” Itu ucap Diane, saya pun setuju dengan pendapat tersebut.

Dulu saya pernah bertanya pada murobbi saya, “ bagaimana kalau saya tidak cocok dengan ikhwan tersebut.”  Beliau tersenyum dengan mantab berkata,” Insya Allah dicarikan yang sesuai dengan kamu.” Saya pun hanya mangut-mangut saja. Tetapi rupanya murobbi tak punya kekuasaan apa-apa, bukan dia desainernya. Saya dipasangkan dengan orang yang berbeda dengan saya.  Lalu kami harus berjanji di hadapan Sang desainer.

Perbedaan itu tak bisa ditolak, harus diterima walaupun proses memakan waktu lama. Bulan, tahun, bahkan seumur hidup jika ingin selamat.

”Saya depresi selama 5 tahun tak bisa menerima hobby suami yang suka nonton football di TV. Orang Amerika gila football, di Mexico tak ada football. Sampai akhirnya saya menyerah menerima kenyataan,” cerita Mariam yang berasal dari Mexico.

”Sampai sekarang, 28 tahun menikah saya masih tidak bisa terima suami saya yang suka bicara tentang peternakan hewan. Saya lahir di kota bukan di kampung, ”  ucap Judith yang sudah mempunyai cucu.

”Tetapi kenyataannya kita semua bisa bertahan.” Diane mengingatkan, dan pendapat pun mulai mengalir.

”Karena kami sudah berjanji untuk setia.  Hanya menikah satu kali, dan berusaha mencari jalan untuk bertahan.”
”Percaya satu sama lain, dia Mr Right seperti saat pertama kali bertemu.”
”Merayakan perbedaan, suami suka nonton football saya jadi cheerleader di depan TV.”
”Terbuka,  sampaikan apa yang ada di hati.”
”Bikin fun dan kreatif.  Sudah terlalu banyak masalah dalam kehidupan, kita butuh senang-senang dengan pasangan.
”Berbagi masalah, dua kepala lebih baik dari pada satu.”

Ah ternyata pernikahan dimana-mana sama, permasalahannya pun serupa yaitu perbedaan.  Semuanya pun mempunyai keinginan yang sama.  Ingin berhasil melalui pernikahan hingga usia senja dengan selamat. Di akhir materinya Diane membagikan secarik kertas yang berisi syair lagu.  Lalu yang membacanya pun tersenyum, berharap mendapat ungkapan itu dari belahan jiwa.

I Will Be Here
By. Steven Curtis Chapman

Tomorrow morning if you wake up
And the sun does not appear,
I will be here.

If in the dark we lose sight of love,
Hold my hand and have no fear,
‘Cause I will be here.

I will be here when you feel like being quiet
When you need to speak your mind, I will listen
And I will be here when the laughter turns to crying
Through the winning, losing, and trying, we’ll be together,
‘Cause I will be here.

Tomorrow morning if you wake up
And the future is unclear,
I will be here.

As sure as seasons are made for change
Our lifetimes are made for years
So I will be here.

I will be here, so you can cry on my shoulder;
When the mirror tells us we’re older, I will hold you
And I will be here to watch you grow in beauty
And tell you all the things you are to me
I will be here.

I will be true to the promise I have made,
To you and to the One who gave you to me.

As sure as seasons are made for change
Our lifetimes are made for years
So I, I will be here
We’ll be together and I will be here.

Mobile, 31 Januari 2008
Oleh-oleh dari pertemuan tadi siang.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS