Beda Sekolah

2011 March 25
by Meidya Derni

Apa yang dipelajari anak saya di sekolah? Pertanyaan tersebut sering saya terima dari teman yang berada di Indonesia. Sejujurnya materi pelajaran anak-anak sekolah di Indonesia lebih berat dari pada di USA. Anak saya sudah berpindah sekolah 3 kali, dan materi pelajarannya dari ketiga sekolah tersebut tidak seberat pelajaran anak-anak di Indonesia.
Jika di Indonesia anak-anak sejak baru masuk SD saja sudah diberikan hafalan dan pekerjaan rumah yang banyak. Sedangkan anak-anak di USA memang memiliki pe-er tetapi tidaklah banyak dan tidaklah sulit. Jika guru memberikan pe-er yang banyak bisa-bisa diprotes oleh orangtua melalui PTA.

Sekolah itu fun, itu yang ditanamkan di anak-anak. Walaupun menurut anak saya pendapat tersebut tidak benar he..he.. Karena di sekolah tetap saja tidak bisa ngobrol dengan teman seenaknya, harus diam saat guru berbicara. Belum lagi jika memiliki teman yang sering berulah. Karena kesalahannya bisa sekelas kena getahnya.

Ada kelebihan sekolah di USA dibandingkan di Indonesia yaitu kreatifitas. Sejak kecil kratifitas anak-anak di perhatikan. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya melalui sebuah karya.

Misalnya saja saat thanksgiving, anak-anak diminta membuat sesuatu berkaitan dengan hari libur tersebut. Mereka boleh membuat tulisan tentang apa sih yang mereka syukuri dalam kehidupan ini. Membuat ayam kalkun dari berbagai materi yang mereka inginkan, boleh dari lego, kaleng bekas, kertas, dll

Saat hari grandparent day, anak-anak diminta menulis surat untuk kakek-neneknya, lalu pada hari H dibacakan di depan para kakek-nenek tsb. Hari tersebut nenek-kakek dipersilahkan melihat kelas dan makan bersama cucu-nya.

Demikian juga saat hari Ibu, anak-anak diminta membuah sesuatu untuk ibunya, sebagai hadiah di hari Ibu. Mulai dari puisi, lukisan, craft, dll yang merupakan hasil kreatifitas anak.

Setiap hari bersejarah, anak diminta untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai hari tersebut. Baik melalui lisan, tulisan ataupun kreatifitas yang lain. Ini berbeda dengan di Indonesia yang lebih menekankan pada hafalan yang terjadi di hari tersebut. Nah ini membuat anak akhirnya membaca buku ataupun mencari info tentang tokoh ataupun latar belakang hari tersebut.

Saat anak menjelang libur mereka diberikan tugas untuk menulis tentang kegiatan yang dilakukan saat libur. Jika anak berkunjung ke suatu tempat maka anak diminta menceritakan apa keistimewaan tempat tersebut, apa yang paling berkesan di hati anak.

Tugas-tugas anak lebih kepada mengajak anak untuk berkreasi, menghasilkan sesuatu yang membuat anak bangga pada dirinya. Jika berkunjung ke sekolah, di dinding sekolah ataupun dinding kelas anak dipenuhi hasil kreatifitas anak. Mulai dari lukisan, puisi, cerita, dll.

Anak-anak di Indonesia hebat, dari kecil sudah mampu menghafal banyak hafalan, sayangnya setelah ujian hafalan tersebut menguap. Tidak ada bekasnya, tidak dapat memotivasi anak untuk mencontoh kehebatan tokoh tersebut.

3 Responses leave one →
  1. 2011 March 30

    Setuju mbak, sayang sekolah di Inndonesia yg dpt memotivasi kreatifitas anak biayanya mahal sekali :'(
    Kpn ya… Pejabat2 di sudin diknas dpt bpikiran tbuka n mengkaji ulang pola pdidikan yg baik n menyenangkan.

  2. 2011 March 30

    Ortunya jadinya yg mesti kreatif di rumah 🙂 Kalau nunggu pemerintah mah nggak jelas.

  3. 2012 March 31
    liza permalink

    saya juga kerepotan dengan materi hapalan disekolah anak saya, saya suka kasihan tapi mau gimana lagi kurikulum dari pemerintah emang sudah begitu, terpaksa ibunya juga ikut repot dengan pr dan sekalian jadi tutor buat anak. soal kreatifitas anak-anak saya lumayan kreatif mekipun kadang bikin saya capek karena rumah jadi berantakan.

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS