I Love You

2009 March 14
by Meidya Derni

ringSiapa yang tidak cemburu melihat mereka. Saat tatapan mata beradu. Tarikan bibir mengukir senyuman. Satu tangan yang saling menyuapi.  Satu tangan saling bertautan. Seakan tak ingin terpisahkan. Kalimat ajaib itu pun terbang!

Oh…, My God…! Baru tiga puluh menit duduk di dekat mereka sudah 10 kali kalimat tersebut kudengar. Gimana kalau seharian di depan mereka? Bisa mati berdiri aku menahan emosi. Bayangkan, mereka yang masih pacaran saja sudah terbiasa mengobral three magic words.  Gimana kalau sudah menikah nanti?

Mataku melirih sepasang teenager yang duduk di disamping mejaku.  Berbeda sekali dengan diriku. Lunch sendiri. Belanja sendiri. Marah sendiri, Sedih sendiri. Sendiri! Di Picadia kafe ini,  hanya aku yang duduk sendiri berteman segelas soda, itu pun hanya tinggal potongan-potongan es-nya saja. Secuil pizza dan semangkuk salad. Kursi dihadapanku kosong! Seperti juga hatiku.

Apakah perasaanku ini salah? Aku kan manusia. Siapa yang tidak suka disayang. Siapa yang tidak suka dimanja. Siapa yang tidak ingin diperhatikan. Siapa yang tak ingin mendapat perlakuan istimewa. Apalagi aku sudah menikah. Jika mereka yang pacaran saja sudah berani mengucapkan tiga kalimat tersebut, kenapa yang sudah menikah tidak berani? Bukankah sudah halal?!

“Excuse me, can I have it.”  Tiba-tiba seorang wanita berdiri di depanku.  Menginginkan kursi yang ada di hadapanku.

“Yes, please.”  Ternyata kursi kosong itu pun diminati orang. Bagaimana dengan hatiku yang terasa gersang? Bagaimana jika ada angin segar yang meniupkan kalimat magic tersebut tetapi berasal dari sumber yang salah? Akankah hatiku menjadi segar?

Mas Bram, sedang apakah kamu sekarang? Apakah chicken sandwich mu keasinan? Masih crunchy-kah lumpianya? Apakah kamu makan, cheery tomatoes yang aku selipkan di saladmu? Ah, pasti kamu akan mengerutu,”sudah tahu tidak suka tomat masih saja dikasih!” Apakah  kamu menyukai  ramuan jus terbaruku? Apel ditambah wortel dan tomat. Pasti kamu akan mengeluh, “ kenapa dikasih tomat, dik?”  Kenapa, sulit sekali membuat mu menyukai tomat?

Sama sulitnya membuat mu untuk mengungkapkan kalimat tersebut. Sejak aku menjadi isteri mu tidak pernah satu kali pun kalimat tersebut mengalir dari bibirmu. Saat kalimat tersebut meluncur dari bibirku, kamu hanya tersenyum. Saat aku menatap matamu, mengalirkan kehangatan di dada, dengan segala ketulusan hati, terungkap perasaanku padamu, kamu hanya menatapku. Saat aku tanyakan padamu apakah kamu mencintaiku, kamu hanya tertawa. Kamu katakan,”seperti anak remaja saja.”

Saat aku duduk di sisimu, menemanimu melalui malam hari bersama komputer kesayanganmu. Berhadapan dengan tumpukan buku-bukumu. Kukatakan kalimat itu. Dan kamu akan menjawab, “ I know.”

Ah Mas, mengapa kamu harus malu? Jika mereka yang tidak ada ikatan resmi, selalu berusaha menguatkan, menumbuh kembangkan  rasa tersebut, mengapa kita tidak? Mengapa kamu tidak berani untuk memulainya? Apakah aku harus mengajarimu? Bahwa rasa itu perlu diungkapkan di mulut. Dirasakan dihati dan ditunjukan melalui perbuatan.

Sekian jam kita berpisah setiap hari. Kamu berada di lingkunganmu. Aku berada di duniaku. Kamu bertemu dengan  Jane yang selalu memakai rok jauh diatas lutut. Marry yang senang memakai kemeja putih transparan. Alexandra dengan krah baju merahnya yang rendah.  Heather dengan baju ketatnya.

Aku bertemu dengan Chris, lelaki separuh baya yang tinggal di depan rumah kita  yang selalu memanggilku “honey”.  Mark, petugas library, dengan senyuman yang menampakan gigi-gigi putihnya, selalu menawarkan diri membantuku mencari buku-buku yang ku inginkan.  Marcel, pemilik toko organic yang selalu memberikan harga khusus untukku.

Bukankah tiga kalimat itu dapat menjadi tali pengikat diantara kita saat berjauhan.  Sebagai pengingat kita,  bahwa hubungan kita masih mengandung “chemistry of love” seberat apa pun keadaan rumah tangga kita.

“I love you, honey.” Kalimat itu lagi yang aku dengar. Bukan dari sepasang remaja yang di sampingku. Tetapi dari seorang ibu yang mejanya di sebrangku.

“I love you, mommy.” Anak kecil itu pun berani mengucapkannya

Mungkin melalui tulisan keberanian mu akan datang.

“I Love you, Mas.”  Send!

Tok! Tok! Aku memukul meja dengan jari-jariku. Sepuluh menit berlalu. Tidak ada SMS terkirim kepadaku. Begitu sibukkah?

-===================== ***** =====================

Bulan penuh. Bintang-bintang malam menjadi penerang. Tiga cahaya kecil yang berasal dari lilin-lilin putih meliuk-liuk di atas meja yang ditutupi sehelai kain putih. Setangkai rose merah berada diantaranya. Sepasang gelas. Sepasang piring lengkap dengan pisau, sendok dan garpu. Sepasang sapu tangan yang diselipkan dalam gelang yang berbentuk hati. Yang diletakan berhadapan.

Pukul tujuh malam. Lampu-lampu dipadamkan. Hanya cahaya bintang dan lilin yang menerangi balcony yang berwarna putih. Balcony yang telah menjelma menjadi ruang makan yang semerbak bunga.

Mengapa belum datang juga? Aku berjalan menuju tirai ruang tamu. Menintip melalui celah-celahnya. Tidak ada cahaya lampu mobil dari kejauhan. Sunyi. Hanya detak jam dinding yang ku dengar.

Perlahan-lahan aku melangkah menuju balcony.  Aku ingin malam ini menjadi istimewa. Malam yang akan ku kenang saat kemarahan singgah di hatiku. Malam yang akan kuingat disaat engkau jauh dariku. Malam yang akan mengisi mimpiku. Malam yang akan menghapus peluhku hari ini. Malam yang mengobati kesedihanku siang tadi. Malam yang kupenuhi dengan rasa di hati.

Samar-samar kucium aroma makanan yang berada di piring yang tertutup kaca. Rasa lapar muncul seketika. Ku comot sebatang asparagus pangang. Aroma oregano membuatku tak tahan untuk mengunyahnya.  Tetapi keinginan itu sirna disaat mataku membentur kursi kosong dihadapanku. Kutaruh kembali asparagus yang bertaburan butir-butir oregano. Aku hanya termenung. Menanti.

Angin malam membuatku sibuk menahan gaun yang ku kenakan. Aku kembali melangkah menuju ruang tamu.  Sudah dua jam aku menghabiskan waktu hanya untuk menunggu. Apa sulitnya menghubunggi ku? Apakah cell phone-nya rusak? Apakah tidak ada kesempatan? Apakah…?

Wroom! Wroom! Kamu datang. Aku melangkah menuju pintu. Membuka pintu.

“Gelap sekali!”  Kamu melangkah masuk. Jarimu mencari saklar. Menyalakan lampu.

“Hm…,” jawabku. Kesal!

“Aku lapar! Tadi bertemu dengan Dean, membahas program untuk spring tahun depan.”

“Hm…!” Tiada kata maaf terucap darinya! Menyebalkan!

“Apakah tadi ada tamu? Mengapa meja makan di balcony?”  Kamu berjalan menuju ke balcony. Membuka penutup piring. Menutupnya kembali.

“Uhh…..!” Aku berteriak.

Kamu membalikkan badan. Memperhatikan gaun yang aku kenakan.

“Hari ini bukan ulang tahun mu kan, dik?” Matamu membaca kalender di jam tangan.

“Ayo, makan. Adik kan sudah masak.” Kamu menarik kursi. Duduk. Membuka penutup piring di hadapan mu.

“Mas, aku itu bukan robot!” Aku berlari menuju kamarku.

Benar-benar keterlaluan. Jangankan makan malam yang romantis. Permintaan maaf pun tidak ada! Apakah suasana ruangan yang temarang tidak juga membuatnya terhanyut? Gaun unggu yang baru kali ini aku kenakan. Sepatu berhak tinggi yang membuat kaki ku sakit. Kalung mutiara putih yang melingkar di leherku. Chanel No. 5 yang aku oleskan di balik kuping dan pergelangan tangan. Semua sia-sia! Harapanku untuk saling menyuapi. Tangan bertaut. Menghitung bintang-bintang. Mengajakku terbang melintasi malam. Semua terbang bersama hembusan angina malam!

Kulempar sepatuku. Kutarik sehelai tissue. Sia-sia dandananku. Dengan keras tissue itu mengosok wajahku.  Menghapus mascara yang membuat mataku berair. Lipstick yang membuatku menahan diri untuk minum. Perona pipi. Bedak. Terbuang percuma!

“Lho dik, ada apa dengan wajahmu? Kok hitam-hitam” Tiba-tiba Mas Bram sudah berada di depanku. Memegang wajahku.

“Nggak kenapa-kenapa!” Dengan ketus aku menjawab. Meninggalkan dirimu yang terpana.  Aku melangkah menuju kamar mandi.

“Ya, ampun wajahku!” Mukaku berubah menjadi polkadot. Maskara membuat noda-noda hitam di wajahku. Lipstick di pipi.

Air dingin menyiram wajahku. Meredupkan api di dadaku.  Terpaku aku menatap wajahku di cermin.

“Tok..tok… Dik, ayo makan.” Kamu mengetuk pintu yang aku kunci

“Makan saja sendiri!”

“Ok, aku makan duluan ya. Lapar sekali nih.”  Kamu pun pergi.

Haaaa….! Begitu saja? Tidak ada rayuan? Kamu makan sendiri tanpa memikirkan aku! Aku yang menahan lapar berjam-jam!

Dengan kemarahan yang menyala kembali aku pergi tidur. Biarlah kamu makan sendiri. Biarlah kamu menyimpan sendiri makanan-makanan itu. Betapa malangnya diriku.  Mengapa aku tidak mampu mengubahmu? Mengapa kamu tidak dapat mengerti keinginanku? Apakah isyarat yang aku berikan tidak kamu pahami? Apakah aku terlalu menuntutmu? Tetapi aku adalah isterimu! Aku berhak dicinta. Aku berhak diperhatikan. Aku berhak dimanja. Itu hakku! Aku tidur dengan mata membengkak.

Sakit dimataku membangunkanku. Aku melirik  lelaki yang terbaring disisiku. Kamu tertidur pulas. Aku bangun bertumpu pada sikuku. Menonton wajah mu. Begitu tenang. Kamu adalah lelaki yang telah kupilih untuk menjadi pendampingku. Keimanan dan pengetahuan mu yang luas mempesonaku.  Ketekunan dan kegigihanmu. Kelembutan tutur katamu. Lelaki yang sabar menghadapi kemarahanku. Yang selalu memompa semanggatku untuk tetap belajar. Tetapi apakah kamu mencintaiku? Karena kamu tidak pernah mengatakannya.

—————————————********************—————————————

Lelaki sulit mengunkapkan perasaannya dengan kata-kata. Mereka lebih menyukai tindakan.  Kalimat tersebut sering sekali aku dengar dari teman-temanku. Tetapi itu pendapat mereka bukan pendapatku. Bagiku tetap diungkapkan di mulut, dirasakan dihati dan diwujudkan melalui perbuatan. Tiga komponen. Titik!

Kalau cuma dimulut, tanpa dirasakan dihati apalagi tanpa tindakan, bukan cinta namanya.

Itu cuma ucapan tanpa makna. Hanya sekadar rutinitas. Yang setiap orang bisa mengobralnya.

Aku tidak ingin kalimat itu keluar dari mulutmu tetapi engkau memarahiku. Aku tidak ingin engkau memberiku bunga dan mengatakannya, tetapi sesaat kemudian engkau memakiku. Tidak! Aku ingin kehagatan dan kedamaian.

Kamu masih sibuk membereskan buku-buku mu. Perlahan aku menghampiri meja kerja mu.

“I love you, Mas.”

Kuselipkan kertas kecil dalam notebook mu.  Aku ingin kamu tahu, bahwa kamu ada di hatiku. Aku ingin kamu memulai kerjamu dengan rasa bahagia di hati. Aku ingin kamu tahu doaku untukmu dalam menghadapai tatanganmu. Aku ingin kamu tahu aku menantimu.

“Mas, pergi dulu dik.” Kamu berjalan menghampiriku. Berhenti. Tersenyum menatapku.

“Hati-hati.” Pesanmu padaku. Berlalu sambil mengucapkan salam. Aku hanya menganggukan kepalaku.

“Hati-hati.” Kalimat itu selalu kamu ucapkan kepadaku. Kamu ingin aku berhati-hati selalu. Berhati-hati dalam mengendarai mobil. Berhati-hati dalam berhadapan dengan orang lain. Berhati-hati dalam tindakanku.  Ah, ternyata engkau perduli kepadaku.

Sama perdulinya ketika komputerku rusak. Kamu rela menukar waktu tidurmu. Kamu rela berkeliling kota, berjam-jam hanya untuk mencari bumbu yang aku inginkan. Kamu rela meminjamkan buku yang sedang kamu baca saat itu juga padaku. Kamu rela datang terlambat kerja karena harus mengantarku.

Mas, kamu mencintaiku dengan caramu. Tetapi aku tidak akan menyerah. Aku ingin kamu tahu apa yang kuinginkan.  Aku ingin pernyataan dari bibirnya. Merasakan kehangatan dihati. Menunjukan rasa itu  kepadaku. (Meidya Derni)

Mobile, 14 September 2005

Cerpen ini sudah terbit di majalah Ummi

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS