Believe in Yourself!

2011 February 22
tags:
by Meidya Derni

Dari kemarin, kedua anak saya sudah menanti waktu pertunjukan Mr Hayes  yang akan mematahkan 100 balok kayu dalam waktu 10 detik.  Mr. Hayes  pemilik sekaligus guru taekwondow mereka di ATA Black Belt Academy.

Akhirnya jam 10 pagi, kami sekeluarga berangkat menuju tempat taekwondow mereka yang jauhnya 1 mile, tidak sampai 5 menit sudah sampai. Sesampai disana sudah banyak teman-teman mereka yang hadir lengkap dengan seragam taekwondo, atas-bawah putih dengan sabuk berwarna sesuai tingkatan kemampuan anak. Anak-anak saya tidak memakai seragam karena niatnya hanya mau menonton Mr Hayes saja.

Saat memasuki kelas, kedua anak saya diminta bergabung dengan anak-anak yang lain untuk duduk di tempat latihan menonton video Power Kiz. Film tersebut bercerita tentang pertahan diri untuk anak-anak. Bagaiman jika mereka didekati orang tidak dikenal. Bagaimana melawan orang yang menangkap mereka, juga praktek langsung jika berhadapan dengan orang jahat.  Anak berlatih memukul bagian hidung, leher, mata dan telinga orang jahat tersebut.

Setelah menonton film tersebut lalu ada atraksi anak-anak yang sudah sabuk hitam. Mematahkan papan kayu, menendang, lalu bermain dengan senjata. Saya perhatian anak-anak tersebut terlihat memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan pertunjukan tersebut.

Sebenarnya itulah tujuan utama saya memasukan anak-anak ke ATA, agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga mereka tidak takut menghadapi tantangan dalam kehidupan. Saat pertunjukan juga ada kesempatan bagi yang hadir untuk belajar memecahkan papan kayu. Mendengar tawaran tersebut, saya tawarkan pada kedua anak saya. Tetapi mereka tidak mau. Ya sudahlah saya tidak memaksa, saya hargai keputusan mereka.

Anak-anak yang mau belajar memecahkan papan sudah berjejer di tempat latihan. Kedua anak saya duduk di samping saya, tak tertarik. Tak lama ada pelatih mereka yang melihat kedua anak saya yang hanya duduk saja. Mr. White pun datang, jongkok di hadapan mereka dan mengajak mereka untuk turun ke lapangan. Ajaib! Mereka langsung mau.

Mulailah anak-anak berlatih melakukan pukulan. Pertama dengan kertas lalu dengan busa dan terakhir dengan kayu. Saat akan melakukan dengan kayu beneran, Mr Hayes berkata pada anak-anak tersebut.

”Yang kamu butuhkan untuk memecahkan papan kayu adalah believe in your self!  Kalau kamu tidak percaya diri kamu tidak akan bisa. Fokus, lihat ke papan dan pukul! Kamu pasti bisa.”

Anak-anak terlihat antusias dan semangat, termasuk peserta termuda usianya 4 tahun. Semua anak berhasil memecahkan papan kayu, termasuk kedua anak saya.  Wow, kami bangga melihat mereka berhasil  memecahkan papan tersebut. Mereka berhasil karena mereka yakin bisa memecahkan papan tersebut.

Hebatnya di ATA anak-anaknya begitu patuh dengan pelatihnya, kompak dan pada percaya diri. Salut dengan para pelatih yang bisa mengarahkan mengobarkan semanggat anak-anak tersebut.  Papan-papan kayu anak tersebut kemudian dibawa pulang  sebagai kenangan papan pertama yang dipatahkan. Juga di papan di tanda tangani oleh pelatih-pelatih mereka. Setelah itu acara puncak, memecahkan 100 papan dalam waktu 10 detik dan ternyata Mr Hayes dapat melakukannya dalam waktu 9,6 detik. Selamat Mr Hayes!

Setelah pulang dari pertunjukkan tersebut saya pun merenung. Saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan anak-anak saya pada diri mereka? Padahal jika saya ingin mereka berprestasi dalam kehidupan mereka tugas pertama saya adalah membangun kepercayaan diri mereka. Tanpa kepercayaan diri mereka akan merasa tidak memiliki harapan dan merasa tak berdaya.

Sedangkan percaya diri akan tumbuh subur dan  efektif jika anak merasa mampu. Dimana orang dewasa menghormati mereka dan menilai mereka sebagai seseorang yang berkuasa pada diri mereka sendiri. Caranya,  dengan memberi mereka harapan pada masa depan mereka.

Sama seperti yang dilakukan Mr. Hayes memberi harapan kepada anak-anak tersebut dengan mengobarkan semanggat dan mengarahkan bagaimana caranya untuk sukses memecahkan papan kayu. Hasilnya anak-anak itu berhasil dengan penuh kebanggaan dalam jiwanya.

Membangun Kepercayaan Diri Anak

Rasa percaya diri anak akan tumbuh subur jika anak merasa berkuasa dan memiliki tanggungjawab pada dirinya.  Anak bukan digunakan sebagai alat pemuasan keinginan orangtua sehingga segala sesuatunya diatur oleh orangtua.  Bahkan  anak tidak diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sampai masa depan anak sendiri.

Untuk itu yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak antara lain adalah:

– Melihat anak sebagai pribadi yang unik, menghargai setiap usaha anak.  Tidak membandingkan seorang anak dengan saudara kandung atau kawan sebayanya.  Melihat kelebihan anak dari pada kekurangan anak.  Mendukung minat anak walaupun berbeda dengan keinginan kita sebagai orangtua. Kadangkala sebagai orangtua tanpa kita sadari kita telah membandingkan anak dengan saudaranya.  “Kamu ini makan berantakan. Adik kamu bisa makan dengan rapi.” “Kakak kamu suka gambar. Masa kamu tidak tidak suka gambar.”

– Realistis Terhadap Kemampuan Anak.  Pelajarilah tumbuh kembang anak. Jangan mengharapkan anak melakukan sesuatu untuk meningkatkan gengsi Anda. Misalnya saja saat ini orangtua berlomba-lomba mengajarkan anaknya membaca sejak bayi. Orangtua bangga jika anaknya dapat membaca sejak dini. Padahal semua itu sebenarnya bukan untuk anak tetapi untuk memenuhi keinginan gengsi orangtua saja.

– Berilah kebebasan pada anak untuk melakukan kesalahan alias biarkan anak belajar dari kesalahan tersebut. Ingatkan anak untuk tidak takut gagal.  Ajarkan anak  ketrampilan dalam memecahkan masalah agar  mereka bisa terus berusaha. Daripada Anda memikirkan kesalahan anak lebih baik  memusatkan pikiran bagaimana cara menyemangati anak.

– Bangun kesuksesan. Ciptakan suasana untuk meminimalkan kegagalan. Misalnya dengan memerinci tugas ke dalam rentetan langkah mudah dan menceritakan mereka secara jelas dan singkat. Sediakan latihan. Beri anak kesempatan untuk berpartisipasi di bidang yang mereka kuasai.

– Semangati anak. Lihat usaha yang sudah dilakukan anak, daripada kecewa dengan hasil yang dicapai oleh anak.

– Hargai perasaaan anak. Ajarkan anak untuk menerima dan menghadapi perasaannya sendiri. Jika anak merasa kecewa dengan teman mainnya, dengarkan apa yang dirasakan anak, berikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan anak.

– Berikan pilihan. Anak tidak akan mengetahui pengertian kepemilikan dan tanggung jawab,  jika orang lain selalu mengambil keputusan terhadap apa  akan mereka melakukan.  Untuk itu berikan pilihan  sesuai umur anak, juga ijinkan mereka untuk mengadakan percobaan.

– Berikan tanggungjawab dan ajarkan untuk bekerjasama. Beri kesempatan pada anak untuk menolong atau melakukan tugas di rumah. Hindari membantu anak melakukan sesuatu jika hal tersebut dapat dilakukan oleh anak sendiri.  Misalnya, biarkan anak memakai sepatu sendiri walaupun Anda harus menunggu.

– Bangun sense of humor. Tetapi jangan sampai mentertawakan anak.

Disadur dari buku Happy Parenting, Meidya Derni

One Response leave one →
  1. 2013 January 5

    Setuju Sekali, tulisannya menarik

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS