Lelaki Berambut Perak

2011 February 14
tags:
by Meidya Derni

Lelaki itu berambut perak. Kerutan memenuhi tangan dan wajahnya. Dia duduk di kursi lipat di perempatan lampu merah. Setiap hari Minggu, mobil saya melalui dirinya yang duduk termenung. Secangkir kopi hangat menemaninya melewati dinginnya winter. Disamping kursi lipatnya bertumpuk koran yang belum terjual.

Menjadi penjual koran adalah pekerjaannya setiap weekend. Saya tidak tahu apakah pekerjaannya di hari yang lain. Di temperatur dibawah nol derajat Celcius dia tetap setia menjajakan korannya kepada mobil-mobil yang berhenti. Terkadang dia berdiri sesaat, perlahan-lahan berjalan menghampiri pembeli. Langkah kakinya berat menyandang tubuhnya yang berbobot besar. Setelah itu dia akan duduk kembali, menikmati dingin yang menusuk tulang.

Dimanakah anaknya? Dimanakah keluarganya? Pikiran saya terbang melintasi benua. Saya teringat kedua orangtua saya yang sudah berumur seperti pria tersebut. Tetapi kondisinya berbeda. Orangtua saya tidak perlu bekerja di usianya yang sudah tua. Kami anak-anaknya berusaha memenuhi kewajiban kami sebagai anak.

Di negara ini saya sering melihat nenek ataupun kakek yang berusia 90 tahun lebih masih bekerja. Masih pergi belanja keperluan pribadi. Masih mengendarai mobil dengan penglihatan yang samar. Akibatnya sering sekali terjadi kecelakaan karena pengendara tidak bisa melihat dengan jelas. Jika demikian biaya asuransi meningkat, pengeluaran setiap bulan menjadi bertambah.

Di negara ini memang semua orang dituntut untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Saya pernah bertanya pada seorang nenek mengapa dia masih tinggal sendiri mengurus keperluannya. “Saya tidak ingin menyusahkan orang lain, termasuk anak sendiri,” demikian jawabnya.

“Saya mesti harus bekerja, untuk mencukupi kebutuhan saya.” Walaupun mereka mendapatkan dana pensiun tetapi itu tidak mencukupi kebutuhannya.

Di Indonesia, biasanya orangtua hidup dengan anak-anaknya. Sejak dini kita diajarkan untuk mengasihi orangtua kita seperti mereka mengasihi kita di waktu kecil. Menjaga dan merawat mereka, tidak membebani dengan masalah yang kita hadapi.

Walaupun ada banyak orangtua yang dipekerjakan oleh anaknya sendiri. Menjadi pengasuh anak bahkan bayi. Mereka masih mengasuh cucu-cucunya saat orangtuanya bekerja. Mulai dari memberi makan, memandikan hingga mengajak bermain. Saat cucu tidak mau makan, neneknyalah yang merasa terbebani.  Dulu mereka mengasuh anak, setelah tua mengasuh cucu. Ah, kalau begitu kapan mereka menikmati masa tuanya tanpa kita bebani?

Hm, apa yang akan terjadi jika kita tua nanti. Ada baiknya kita mempersiapkan diri sejak sekarang. Persiapkan anak-anak kita agar tahu tangungjawabnya sebagai orangtua dan anak. Persiapkan kebutuhan hidup kita kelak. Memang rejeki sudah ada yang mengatur, tetapi kita harus berusaha dan membuat perencanaan.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS