Recreation Center

2009 March 14
tags:
by Meidya Derni

Kalau nasi sudah  jadi bubuk, itu masih enak dimakan. Campur ayam, telor,  emping. Yummy. Dua mangkuk tandas. Apalagi saat winter. Dingin-dingin makan bubur ayam panas ditemani wedang jahe. Nikmat! Tetapi kalau nasi sudah jadi lemak, nah itu dia. Sebelll….!  Dagu dua.  Pipi cubby. Perut buncit, menyembul. Lengan ngelambir. Paha nempel. Jalan susah. Nafas pendek.

Perut rata. Langsing. Wajah mulus. Kulit lembut bercahaya. Siapa yang menolak? Pakai baju pede. Pakai celana, juga ok.   Penampilan! Ya, kalimat itu selalu mengusikku. Segala cara kutempuh. Food combination, yang memisahkan karbohidarat dengan protein. Atkins diet, dengan sumber karbohidarat yang berada di puncak piramida makanannya.  Protein yang menjadi landasan piramida, sebagai menu utama.  Segala macam diet! Merelakan tubuh di tusuk-tusuk jarum akupuntur.  Bahkan  Fitnes! Dua jam,  aku berada di gym ini. Bermandikan peluh. Berlari di mesin yang terus melaju.  Aku harus bisa! Harus!  Lima mile. Membakar 700 kalori. Tinggal 0,5 mile. Yes!

Panas! Basah! Ah, besi-besi  bertumpuk itu masih menantiku. Sabar! Kuatur dulu nafasku. Biarlah kuteguk dulu kenikmatan dari botol ini. Meregangkan otot-otot di kakiku. Bersandar pada kaca yang menyatu di dinding. Menonton mereka yang terus berjuang. Membakar lemak, mengencangkan otot, membentuk tubuh. Bisep curl. Leg curl.

Recreation Center. Sesuai dengan namanya. Tempat ini selalu ramai. Tidak perduli summer atau winter. Pagi, siang atau pun malam. Dari yang  mahasiswa yang masih ABG sampai yang sudah menua di kampus. Dari dosen muda belia sampai yang berambut perak.  Atau pun masyarakat luar. Yoga, aerobic, renang, tenis, fitnes, sauna, tinggal pilih. Ada yang sekedar ingin lihat-lihat, kebugaran atau pun demi penampilan, seperti diriku. Bahkan tempat ini digunakan  untuk melepas strees. Atau pun pelarian para insomnia. Berharap setelah badan letih mata dapat terpejamkan.

Baru sembilan  bulan aku di negeri ini, bobotku sudah melonjak 15 pounds! Apa kata teman-temanku di Indonesia. Mereka akan mentertawaiku. Bisa-bisa aku dikira Ibu-Ibu.  Kalau aku, ibu yang sudah punya momongan, aku bisa meniru kakak-kakak ku.  Kak Yana selalu berkata, “aku kan sudah melahirkan. Jadi perutku sudah tidak ramping lagi. Hamil berat badan naik 20 kg. Sembilan bulan, perut ini menjadi rumah buat anak-anak ku.”  Atau aku bisa berkata seperti Kak Ena, “ Kamu kan tahu anak-anak susah makannya. Aku jadi tong sampah di rumah. Menghabiskan makanan anak-anak. Dari pada dibuang!” Berlindung di balik anak.

Tetapi aku, nikah saja belum. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak bisa belajar tanpa cemilan di sampingku. Apalagi saat menghadapi ujian. Mata sulit diajak terjaga sepanjang malam tanpa ada sesuatu di mulutku. Apakah aku harus menyalahkan musim dingin? Yang membuatku selalu kelaparan. Yang membuatku malas berjalan kaki. Yang membuat badanku malas bergerak. Bahkan untuk berdiri di depan stove pun tak mampu. Angkat telepon. Datanglah petugas delivery. Gampang! Ingin irit, kenyang, praktis? Datang saja ke Mac Donald, Burger King, Wendys, Sonic,  dan lain sebagainya yang menyediakan menu $-nya. Untuk orang yang tidak bisa masak dan mahasiswi seperti aku, mereka adalah  pahlawanku. Masih belum kenyang. Tinggal datang ke buffet. China’s buffet? Dengan mudah ku temui. Bertebaran di jalan-jalan protokol. American, Italian’s buffet, tinggal pilih.  Bosan dengan menu mereka? Ada menu Mexico.  Tortillas, Chilies,  Tacos, Burito, Fajitas, Quesadillas. Dari fast food sampai menu tradisonal tersedia. Atau aku menyalahkan keluarga Indonesia yang mengundangku makan. Dengan menu-menu Indonesia yang tidak bisa kutemui setiap hari. Yang membuatku kalap. Belum lagi aku dibekali setumpuk bawaan.

Bertambah temanku di gym ini. Jessica, African-American, yang berjuang membakar lemak-lemak di perut yang tampak seperti hamil sembilan bulan. Lengan yang bergelambiran, mengayun. Paha yang tak bisa dibedakan dengan tubuhnya. Dengan ukuran size celana 44W.  Dia juga membenci bola yang berada di balik tubuhnya.

Aku sedang jatuh cinta! Itu jawabnya. Saat kutanya, mengapa baru sekarang datang ke gym? Mengapa dulu dia tidak perduli dengan pergerakan bobot tubuhnya? Sedangkan dia perduli dengan rambutnya yang kerinting mie itu. Tidak akan pernah berani melangkahkan kaki tanpa wig menempel di kepalanya. Perduli dengan apa yang menempel di tubuhnya. Baju, tas dan sepatu harus  match. Perhiasan. Bahkan ikat rambut!

Cintaaa…! Yang membuat  rela menukar waktu kuliah untuk membakar lemak. Meninggalkan soda yang selalu dalam gengamannya. Menukar Big Mac dengan salad.  Memilih carrot stick dari pada potato chip. Menganti bubble gum dengan pil-pil penghancur lemak.

Merry, yang selalu ingin tampil cantik. Sangat memperhatikan penampilan. Sedikit saja ada lemak di perut, membuatnya kalang kabut. Tatanan rambut tidak sesuai. Ada jerawat kecil yang sulit untuk dilihat. Membuatnya urung hadir di kelas. “Untuk saya, merasa baik terhadap diri sendiri itu penting. Bisa mempengaruhi banyak hal. Mempengaruhi perasaan, kejernihan berpikir. Saya percaya, jika kita merasa baik, dampaknya juga positif untuk  sekeliling kita. Jadi manis ke orang-orang  di sekeliling kita.” Begitu tuturnya padaku.

Anne, yang selalu ingin tampil mempesona dan bermandikan parfum. Dari ujung rambut sampai ujung kuku menjadi perhatiannya. Yang memiliki jadwal facial, creambath, medicure, pedicure, nail polish. Bekerja untuk mendanai penampilan atau penampilan yang bekerja. Aku tidak tahu!

Saat aku tanya, yang dia katakan, “Ini tuntutan pekerjaanku sebagai customer services manager.  Walaupun aku menyukai baju tanpa lengan. Tanpa penutup kaki. Hal itu tidak mungkin kugunakan di tempat kerja.  Apa kata customerku nanti? Lagi pula demi menyenangkan suami. Sebagai photografer majalah mode wanita. Dia dikelilingi gadis-gadis belia yang cantik, segar, usianya jauh dibawahku.”  Tetapi apa iya suami hanya bisa bahagia dengan penampilan tubuh?  Jika melihat perut yang  rata, dada yang berisi, bokong dan tangan yang seksi?

Mrs. White.  Dosen muda yang memiliki otak cemerlang.  Tubuh ramping. Mata biru. Hidung mancung. Kulit putih.  Baju, tas dan sepatunya selalu tampil serasi. Tetapi wajah dingin tanpa senyuman, yang membuat mahasiswanya bete.  Padahal dia tidak punya masalah dengan gigi!

Aina, gadis Ethiopian. Selalu tersenyum. Gigi putih kontras dengan kulitnya, seperti Zebra. Dengan rambut keriting kawat yang tebalnya hanya tiga centimenter. Tidak pernah ditutupi dengan wig. “Aku puas dengan apa yang ada pada diriku,” ucapnya selalu.   Tubuh tak berdaging. Tak pernah kenyang makan. Makanya selalu ramping.  Alasannya datang ke gym, “Aku ingin tetap bugar. Di negara ini aku dimanja dengan fasilitas. Berbeda dengan asalku, yang selalu berjalan kaki kemana pun aku pergi.”

Tentu saja fasilitas  negeri ini berbeda.  Escalator, elevator tersedia hampir di setiap gedung. Bis-bis kota yang datang tepat waktu. Tidak perlu membakar diri di siang hari dengan penantian yang tidak pasti. Tidak perlu lari mengejar bis. Mobil bukan barang mewah di negara ini. Bahkan kursi roda bermesin tersedia di groceries, pertokoan  untuk mereka yang sulit bergerak. Ntah itu karena manula, cacat atau pun obesitas.

Apapun alasannya, masing-masing  punya pertimbangan sendiri untuk datang ke gym ini.
Tetapi kini, Anne dan Jessica tidak pernah datang lagi ke gym ini. Anne yang berwajah dan berpostur tubuh seperti boneka Barbie.  Anne melepaskan pasangan hidupnya untuk wanita yang 15 tahun lebih tua dari usianya. Kulit keriput. Badan dua kali lebih besar! Kepercayaan dirinya memudar. Tidak perduli akan penampilannya lagi. Krim malam, pelembab kulit, segala kosmetik  yang biasa menempel di tubuhnya  ditinggalkannya. Makan sesukanya. Jadwal-jadwal rutin dibuang.

Lupa akan keinginanya untuk memiliki kulit seperti ku. “Aku suka warna kulitmu. Cantik. Aku selalu tan, untuk memiliki kulit seperti mu,” ucapnya saat itu sambil mengelus kulitku.” Anne masih merasa kurang cantik. Padahal kalau di Indonesia dia sudah jadi bintang film.  Lalu cantik itu apa?! Semua orang punya definisi masing-masing.

Jessica memilih jalan pintas untuk melunturkan lemak-lemak yang ada di tubuhnya. Liposuction! “Ini cara termudah! Aku sudah tidak makan, fitnes, tetap saja 210 pounds!” Waktu tiga bulan yang dihabiskannya di gym di tingalkannya. Tiada yang tersisa. Tidak juga waktu untuk datang ke kelas. Dia harus bekerja lebih dari yang dia mampu. Tagihan kartu kreditnya telah merampas waktunya. Tetapi dia bahagia dengan pilihannya.  Dia terbebas dari obesitas.

Obesitas! Ternyata merugikan diri sendiri dan  orang lain! Bayangkan jika harus duduk di pesawat berjam-jam dengan orang yang besar badanya dua kali lipat bahkan lebih. Jatah kursi kita diambilnya.  Seharusnya mereka membayar harga tiket pesawat untuk dua orang. Karena menambah beban pesawat. Semakin boros bahan bakar pesawat. Bukannya jatah bawaan penumpang dikurangi. Atau di mikrolet. Tetap saja aturan 6,4 dipakai! Belum lagi kalau orang tersebut tidak suka mandi, dengan lipatan-lipatan tubuh yang beraroma.  Ditutupi dengan parfum yang membuat bersin-bersin. Yang tertinggal di saat tuannya sudah menghilang.

Ah, jika uang untuk mengemukan badan, lalu menguruskannya kembali dikumpulkan, bisa menghidupi orang-orang yang mati karena kelaparan. Belum lagi biaya akibat penyakit karena kegemukan. $117 billion per tahun ! Ini menurut Weight Control Information Network, U.S.A.  Walaupun di negara Afrika berbeda.  Lemak yang dilihat sebagai tanda kekayaan. Jika seorang gadis kurus dia dikira miskin, dan tidak akan dihormati. Ini yang membuat anak-anak perempuan kaya, sejak kecil di abused. Diharuskan makan berpiring-piring.

Lho…, bukannya aku sendiri termasuk obesitas. Walaupun untuk ukuran masyarakat negara ini aku termasuk kecil. Apalagi saat aku berada di Walmart Superstore. Pengunjung berbadan ramping dapat aku hitung., yang setiap hari semakin berkurang. Walau pun kampanye no obesitas semakin gencar.

Obesitas yang merusak penampilanku. Yang membawaku ke gym ini. Yang membuatku memakai korset, agar lemak-lemak dibaliknya tidak menyembul. Yang membuatku  meningalkan baju-baju yang kubawa.  Mengeluarkan dana untuk penggantinya. Merugikan diriku!

Tidak pernah kenyang makan. Apakah aku mampu? Hanya satu potong fried  chicken, juicy inside, crunchy outside. Bagaimana dengan kentang goreng? Pizza dengan taburan black olive, onion, pepper, spinach, fetta cheese, dan mozarella cheese. Spagetti meat ball dengan aroma oregano yang khas. Egg drop sup hangat dengan potongan-potongan kerupuknya.  Fried rice noodle yang disiram  mongolian beef dengan irisan onion yang manis.  Apalagi  masakan di pengajian. Ada somai udang dengan potongan udang yang tersisa. Pempek dengan rasa ikan yang mantabbb! Dengan cuka pedas beraroma bawang putih. Makan satu, mana cukup! Martabak daging dicampur dengan sayuran. Lumpia yang renyah, hangat dengan potongan rebungnya.  Belum lagi soto, sate,  rendang. Sambal terasi lenkap dengan lalapan, ayam bakar dan nasi panas ngepul. Oh…, Noo…! Dan dessert… dessert….! Cheese cake yang halus terbuat dari cream cheese yang gurih, lumat di mulut. On the top, strawberry jam dengan irisan strawberry merah menyala. Yang seakan berkata pick  me…. , eat me….! Coklat cake, nah ini dia…! Apa lagi kalau bukan coklat yang selalu membuat banyak orang terbuai oleh rasanya. Dengan taburan serutan coklat yang menantang. Lapis demi lapis cake coklat, krim coklat, ganache coklat yang akan membuat para pecinta coklat, menjadi ingin dan ingin memakannya lagi. Puding nan lembut. Oh….., mampu kah? Membayangkannya saja membuatku lapar!

Makanan…, makanan…, mengapa begitu mengodaku?  Dengan tampilan yang aduhai. Dengan rasa yang tak terlupakan. Warna yang mengoda. Daya tarik luar biasa. Betapa banyak korban berjatuhan.  Tidak pandang usia. Dari bayi sampai manula. Tidak pandang jenis kelamin, warna kulit atau pun agama.

Makanan…, oh makanan…! Dibutuhkan, tetapi juga meracuni. Mereka mati kelaparan. Mereka mati kekeyangan. Mati digebukin masa, karena merampok demi membeli makanan. Perut sudah menjerit! Perut dulu dikenyangkan baru kebutuhan lain. Oh.., noo….! Aku termasuk salah satu korban.

Tidak…, tidak….! Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Aku tidak ingin dikuasai oleh makanan. Hidupku bukan untuk makan. Aku harus melawan. Demi diriku! Bukan karena takut di cemooh temanku. Bukan takut dikira ibu-ibu. Tidak perlu aku memikirkan pedapat teman ku tentang diriku. Ini tubuhku. Aku yang harus menjaga dan merawatnya. Bukan mulut-mulut mereka. Bukan demi  dan karena orang lain. Yang akhirnya  dapat membuatku berhenti datang ke gym ini.

Ok, cukup istirahat.  Aku harus bergerak. Besi-besi itu sudah menantiku.  Aku ingin mengusir lemak di lengan ini. Lipatan di perut. Paha yang membesar. Atas kesadaranku sendiri. Agar beratku kembali normal. Agar tidak perlu aku membuang uang  membeli pakaian baru. Membuang waktu untuk shopping. Sebelum penyakit-penyakit itu datang. Eat well, pay less! I feel good about myself! Tebar senyum. Dunia pun tersenyum kepadaku.

Mobile,  Desember 2005

Sudah diterbitkan di majalah Annida

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS