Perbedaan Anak Indonesia Dengan Anak USA

2011 January 26
by Meidya Derni

“Mama, saya mau kerja di Mc Donald,” ucap seorang anak usia 15 tahun pada ibunya. “What!” Ibu terkejut mendengar perkataan anak tersebut. “Tidak! Tugas kamu belajar. Sudah nanti kamu dimarahin Baba!”  Anak tersebut berlalu dengan omelan,”Uh teman saya saja sudah pada kerja.”

Ucapan ibu yang berasal dari suatu negara di Afrika, mengingatkan saya pada usia remaja. Orangtua saya sering berkata,”Tugas kamu sekolah. Tidak perlu mikir cari uang segala. Kalau butuh uang bilang.” Rasanya ucapan tersebut juga sering dilontarkan oleh orangtua yang lain. Tentulah hal tersebut karena orangtua sayang pada anaknya. Orangtua sadar bahwa beban mata pelajaran anak di sekolah saja sudah berat, masa harus memikirkan cari uang segala.

Di USA, saya melihat perbedaan yang besar antara remaja di Indonesia dengan remaja Amerika. Remaja disini lebih mandiri. Mereka terbiasa bekerja sejak kecil. Dimulai dari pekerjaan sederhana menjadi pengasuh anak, binatang peliharaan, memotong rumput, membersihkan snow, hingga berjualan.

Setelah usia 16 tahun mereka mulai diijinkan bekerja di toko, restoran, dll. Tetapi tentu saja mereka dilindungi Undang-Undang. Tidak boleh bekerja melewati batas waktu yang ditentukan, agar tugas sekolah mereka tidak terabaikan.

Memang di Indonesia saya melihat banyak anak yang bekerja di pingir jalan, tetapi itu berbeda. Karena mereka melakukan pekerjaan akibat terpaksa bukan kesadaran dan keinginan pribadi.

Di sekolah pun mereka dilatih berusaha. Misalnya saja saat SD, di sekolah ada kelompok yang merupakan wakil dari tiap kelas. Kelompok ini sering melakukan banyak kegiatan untuk memperoleh dana bagi sekolah ataupun kegiatan sosial. Anak-anak yang berusia 9-11 tahun itu bergantian berjualan kue, permen, biskuit, dll setiap pagi di sekolah.  Mereka pun melakukan kegiatan cuci mobil disaat weekend.

Keperdulian mereka pada lingkungan dan sesama pun ditunjukkan. Mulai dari kampanye recycle, jalan kaki ke sekolah, hingga memanjangkan rambut lalu memotongnya untuk disumbangkan kepada anak-anak yang botak akibat terkena kanker.

Seringkali saya membaca dan melihat berita tentang anak-anak yang mendapat penghargaan karena keperdulian mereka terhadap sesama. Ada anak yang mengumpulkan boneka dari lingkungan di rumahnya untuk diberikan kepada anak-anak di RS. Ada anak yang mengumpulkan ayam kalkun pada saat Thanksgiving untuk diberikan ke rumah singgah. Anak yang mengumpulkan makanan kaleng untuk dibagikan ke panti jompo. Anak yang mengumpulkan baju dingin untuk para gelandangan.  Ada anak yang mengumpulkan uang untuk membantu biaya operasi anak yang lain, dll.

Rasanya berita tentang anak-anak Indonesia yang melakukan hal seperti ini jarang saya dengar ataupun baca. Entahlah mungkin karena tidak diekspos atau malah memang tidak ada. Padahal berita seperti ini perlu agar menjadi inpirasi untuk anak-anak lainnya.

Saat SMA, anak-anak di Amerika, disarankan untuk melakukan kegiatan sosial ataupun volentir. Jam kerja sosial ini akan dihitung. Saat melamar ke kampus, maka lamanya volentir ini menjadi nilai tambah bahkan persyaratan.

Lalu bagaimana dengan remaja di Indonesia? Sebagai orangtua semestinya kita melakukan sesuatu terhadap anak-anak tersebut. Sudah tidak masanya lagi membiarkan anak-anak kita bermanja dengan fasilitas orangtuanya. Ajarkan mereka untuk berusaha mandiri. Mulai dari memperoleh uang saku dari pendapatanya sendiri dan keperduliannya sosialnya diasah.

Anak-anak, saya libatkan dalam kegiatan saya. Mulai dari yard sale, menjual mainan, buku yang tidak mereka perlukan lagi hingga lukisan tangan, prakarya, bahkan komik yang mereka buat sendiri. Putra saya yang berusia 7 tahun saat kumpul-kumpul tanpa saya minta berjualan komik buatannya sendiri. Juga saya libatkan mereka dalam kegiatan volentir di masjid ataupun lingkungan tempat tinggal saya.

Internet sekarang menjadi bagian kehidupan anak-anak kita. Nah dari pada mereka membuang waktu bermain game di internet lebih baik ajarkan mereka melakukan sesuatu yang bermanfaat. Misalnya saja, menulis di blognya dan mendapat penghasilan dari tulisan ataupun iklan yang ada di sitenya.  Mereka juga bisa diajarkan untuk berdagang melalui sitenya.

Sulit membuat blog, tidak tahu bagaimana memulainya, tidak bisa jadi alasan, mulailah dari yang kecil. Fasilitas gratis untuk blog bertebaran di internet. Pingin jualan tetapi tidak tahu membuat toko onlinenya? Banyak jasa yang bisa membantu, bahkan bisa dimulai dari blog. Tidak punya modal? Kemauan itulah modal utama. Banyak bisnis yang bisa dilakukan dengan modal kecil. Nah bagaimana pendapat Anda?

5 Responses leave one →
  1. 2011 January 27

    keren sekali mbk,

    mbk saya izin share artikel mbk ya (saya beri sumber tentunya), makasih 😀

  2. 2011 January 27

    Silahkan aja 🙂

  3. 2011 February 4

    betul sekali mbak.apalagi lihat perilaku remaja sekarang, wah pinginnya seperti yang di sinetron. hdup enak tanpa perlu perjuangkan.

  4. 2012 December 31

    Setuju sekali mbak. mesti ada perubahan dalam mendidik anak agar lebih mandiri…

  5. 2012 December 31

    Setuju mbak. mesti ada perubahan dalam mendidik anak agar lebih mandiri…

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS