Uh…, Baunya.

2011 January 20
tags:
by Meidya Derni

Saya sengaja memilih waktu pagi hari setelah mengantar anak-anak ke sekolah untuk datang ke ruang fitnes. Biasanya ruang fitnes masih kosong, sehingga saya merasa bebas dan nyaman sendirian di ruangan tersebut. Tetapi hari ini saya harus mempersingkat waktu kunjungan saya. Saat memasuki ruangan saya melihat sudah ada satu pria yang sedang mengunakan treadmill.

Setelah melakukan peregangan, saya mengunakan treadmill yang ada di sebelah pria tersebut. Seketika saya merasa mau muntah, tak tahan mencium badan badan pria tersebut. Saya lihat kipas angin semuanya hidup dan pintu terbuka lebar, tetapi bau tak sedap tersebut masih tetap ada.

Saya mencoba menahan diri, tetapi ternyata saya tidak kuat, akhirnya saya putuskan untuk pulang saja. Ah, bau badan sungguh menganggu orang yang ada di sekitar kita.

Saya tidak tahan dengan bau, kepala saya bisa pusing seketika dan muntah-muntah. Tetapi rupanya untuk sebagian orang hal tersebut tidak menganggunya bahkan mungkin mereka menikmati. Seperti bau kemenyan buat sebagian orang dari Timur Tengah itu wangi, makanya sering dibakar di rumahnya khususnya jika akan ada tamu yang datang.

Seperti halnya ketika teman saya mengundang saya datang ke rumahnya. Saya ceritakan kalau bau tersebut di Indonesia tdak disukai karena mengingatkan hal yang menakutkan. Sejak itu teman saya tidak memakai wewangian tersebut di rumahnya jika mengundang saya datang.

Saya sering juga merasa tak nyaman dengan bau badan orang-orang yang berasal dari negara lain. Bagi mereka bau tersebut nikmat, tetapi bagi saya menyebalkan. Teman-teman saya yang berasal dari India, Pakistan dan Baglades memiliki bau badan yang sama menurut saya. Saat mereka datang ke masjid baunya sama.

Itu semua karena bumbu masakan, rempah-rempah yang mereka pakai dalam masakan sama. Masakan mereka pekat dengan bumbu yang tajam. Sayangnya seringkali sebelum mereka datang ke masjid lupa ganti baju atau bahkan memakai baju yang sama saat dipakai masak.

Mereka sudah terbiasa dengan bau-bauan tersebut sedangkan buat saya itu bikin muntah. Akibatnya jika sholat di masjid saya sering tidak konsen karena menahan diri agar tidak muntah ketika sholat.

Terkadang saya memilih bagian paling ujung, dekat pintu agar baunya tak begitu tajam. Saat bertemu kami terbiasan bersalaman dan berpelukan, dan itu sungguh membuat saya salah tingkah. Saya sering berusaha menghindar untuk dipeluk 🙂

Imam di masjid tentu saja sering menjerit, minta jemaah sebelum datang ke masjid mandi, dan jangan makan bawang putih ataupun onion sebelumnya. Memang memakai parfum tidak dianjurkan sebelum datang ke masjid karena bisa menimbulkan fitnah.

Lalu bagaimana dengan pria Amerika yang ada di ruang fitnes tersebut. Banyak faktor pencetus bau badan. Misalnya saja faktor hormon. Anak-anak yang sedang puber, bau badannya juga tajam.  Kelebihan berat badan, makanan, minuman, rokok hingga kebersihan diri.

Untuk itulah agar bau badan dapat dikurangi, perhatikan kebersihan diri, jangan malas mandi. Makanan pencetus beserta minuman dan rokok juga dihindari. Jangan malas pakai deodoran, kasihanilah orang-orang di sekitar kita, apalagi jika akan melakukan kegiatan yang berkeringan. Mungkin karena terbiasa dengan bau badan sendiri, jadinya hidung kita sudah tidak mencium bau lagi, tetapi orang lain masih mencium bau tersebut.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS