Alih Peran Makanan

2010 October 15
by Meidya Derni

“Dokter meminta saya untuk menurunkan berat badan saya. Jika tidak sakit punggung saya tidak akan hilang,” ucap teman saya, saat saya datang menjenguknya di rumah.

“Kalau begitu lakukan sesuatu agar kamu tidak menderita terus.”

“Tetapi gimana? Itu sulit Meidya! Saya berusaha diet malah timbangan naik terus.”

Hm, keluhan teman saya itu bukan hanya dia saja yang mengalaminya. Semua teman saya yang obesitas, pasti mengeluhkan hal yang sama.  “Mau diet, malah timbangan naik terus.”

Waktu putri saya berusia 2 tahun, Dr Peggy, seorang profesor pendidikan anak di kampus U of A, memberikan nasehat pada saya agar jangan pernah “memanfaatkan” makanan sebagai hadiah, sebagai alat untuk mempengaruhi ataupun menghibur anak. Hal itu disebakan seringkali orangtua mengunakan makanan untuk merayu anaknya, dan ini berbahaya buat anak. Cara pandang anak terhadap makanan bisa salah.

“Nanti mama belikan es krim, kalau kamu mau belajar.”
“Kalau kamu beresin kamar, nanti boleh beli coklat kegemaran kamu.”

Akibat dari perbuatan tersebut, tak salahlah kalau saat ini banyak orang menderita obesitas, tidak hanya pada  orang dewasa tetapi juga pada anak.

Mengapa demikian? Karena makanan telah memiliki banyak “peran”.  Makanan tidak hanya digunakan untuk menghasilkan energi agar dapat beraktifitas, bertahan hidup, tetapi juga dijadikan “sahabat dekat” bahkan tempat menemui kepuasan.

Saat sedih, makanan sebagai penghibur.
Saat kecewa, makan sebagai pelampiasan.
Saat kesepian, makan sebagai kepuasan.
Saat marah, makan sebagai pembalasan.
Saat bahagia, makan sebagai tempat berbagi kebahagiaan.
Saat butuh teman, makanan menjadi sahabat baik.
Saat cemas, rindu, takut, makanan tempat berkeluh kesah.

Jika demikian tak heranlah saat berusaha diet, malah timbangan naik.

Seperti pengakuan teman saya,”Saya frustrasi dengan berat badan saya, akhirnya malah sekotak coklat saya habiskan.”

“Saya marah dengan teman saya, akhirnya saya ke restoran makan sepuas saya.” Lho kok, marah dengan teman, diri sendiri yang dikorbankan? Cobalah ganti pemikiran tersebut.

Sebelum kita makan, saat mau mengambil makanan, tanyakan pada diri sendiri.
“Mengapa saya makan? Apakah karena saya lapar? Atau karena perasaan saya sedang tidak menentu? Sedang marahkah saya? Sedang kecewakah saya?”

Jika memang suatu masalah sedang terjadi, cobalah cari penyelesaiannya, jangan mengalihkan pikiran pada makanan. Jika kesepian carilah teman. Jika marah pada pasangan, hadapi dirinya, jangan makanan yang diembat 🙂

Lalu jika Anda berhasil menurunkan berat badan walaupun 1 kg, hargailah keberhasilan tersebut, berbahagialah. Tetapi jangan dirayakan dengan makan-makan ya.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS