Pilihan

2010 October 8
by Meidya Derni

“Mengapa Allah menciptakan orang jahat?” tanya putri kami. Hari itu dia baru mendapatkan info tentang suatu kejahatan. Rasanya pertanyaan tersebut tidak hanya ditanyakan oleh anak kecil, orang dewasapun sering bertanya hal yang sama.

“Allah memberikan kebebasan pada ciptaannya untuk memilih. Tetapi Allah juga memberikan peringatan dengan mengutus nabi dan rosul beserta kitab suci,” ucap suami saya.

“Lagi pula kalau semua mahluk itu baik maka semuanya sama dan itu membosankan. Jadi kamu pun juga diberikan pilihan oleh Allah,” cetus saya.

Pilihan tidak hanya berkaitan dengan perbuatan baik atau buruk tetapi juga pada segala aspek kehidupan.

Lalu bagaimana dengan pilihan dalam kehidupan Bunda?

“Saya tidak punya pilihan. Saya dipaksa untuk bekerja.”

“Kalau saja saya bisa memilih dalam kehidupan ini, tentulah saya amat bahagia. Saya akan memilih tinggal di rumah.”

“Saya sudah cari kerja, tetapi tidak dapat-dapat juga. Memang sudah takdir saya jadi ibu rumah tangga. Tidak punya penghasilan hanya mengharapkan gaji suami.”

“Sudah jalan nasib saya begini. Pergi pagi pulang malam mencari uang untuk keluarga.”

“Beginilah repotnya saya harus ngurus anak sambil kerja di rumah. Mau kerja di luar tidak bisa. Kerja di rumah digangguin terus. Serba salah.”

Seringkali saya mendengar ungkapan dari teman-teman saya bahwa mereka bekerja ataupun tinggal di rumah karena tidak ada pilihan. Keadaan yang memaksa mereka untuk pergi pagi pulang malam. Keadaan yang memaksa mereka mereka untuk tiap hari disibukkan dengan urusan rumah tangga. Mereka menyalahkan kehidupan yang tidak memberikan pilihan pada mereka.

Padahal semua itu tidaklah tepat! Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat menentukan pilihan dengan konsekuensi. Memang ada kalanya kita tidak dapat memilih secara sadar, mungkin dikarenakan kita tidak benar-benar mengetahui apa saja pilihan yang tersedia. Kita mengira hanya ada satu pilihan. Sayangnya pilihan tersebut pun ternyata kurang tepat dan membawa konsekuensi yang tidak diharapkan.

Contohnya ketika saya memilih untuk mendampingi suami saya di Amerika, maka saya harus menerima konsekuensinya. Bahwa saya harus melepaskan pekerjaan di Indonesia, dan tidak mendapatkan ijin kerja di Amerika. Ini bukan berarti saya terpaksa untuk tinggal di rumah. Sayalah yang memilih untuk mendampingi suami dan menanggung konsekuensinya.

Ada juga teman saya yang menyalahkan nasib yang membuatnya menjalani kehidupan ini dengan tidak bahagia. “Memang takdir saya!”  Padahal Allah menciptakan manusia dengan penuh rahmat dan kasih sayang. Tak mungkin Allah menakdirkan kita untuk tidak bahagia. Bukan berarti saya tidak mempercayai rukun iman akan takdir baik dan takdir buruk. Tetapi pasti ada hal yang belum kita sadari akan rencana Allah.

Untuk itu jika Bunda sudah memilih untuk dekat dengan anak setiap waktu maka Bunda harus menanggung konsekuensi dari setiap pilihan tersebut, baik atau buruk. Jangan katakan bahwa Bunda terpaksa tinggal di rumah karena Bunda tidak punya pilihan.

Ingatlah, Bunda yang telah memilih dan Bunda harus bangga akan pilihan tersebut. Bukan orang lain yang melakukan pilihan buat Bunda. Bukan orang lain yang mengatur hidup Bunda. Dengan mengingat itu maka Bunda dapat berbahagia dengan pilihan tersebut.

Jika orang lain (misalnya suami) yang menentukan pilihan buat Bunda maka itu pun merupakan pilihan Bunda.  Bunda yang memilih orang lain untuk menentukan pilihan bagi diri Bunda.

Untuk itu jika Bunda belum berbahagia dengan pilihan yang Bunda pilih maka segeralah memperbaikinya. Ketika Bunda salah mengambil pilihan, hal itu bukan berarti Bunda harus melupakan tujuan, keinginan, harapan yang hendak Bunda raih.

Ingatlah, selalu ada kesempatan kedua.   Bunda dapat mengambil pilihan yang lebih tepat. Bunda dapat selalu belajar dari setiap pilihan yang Bunda tentukan.

*Baca tulisan saya selanjutnya di buku Happy Bunda, yang diterbitkan oleh LPPH.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS