Bunda Tahu Semuanya!

2010 May 1
by Meidya Derni

“Saya merasa sangat letih hari ini. Saya tidak bisa tidur tadi malam,” keluh teman saya Yohana, sambil memasukkan potongan kentang salad ke dalam mulutnya.

“Kenapa? Masalah dengan Juan lagi,” tebak saya sambil menikmati makan siang bersama-sama dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara.

“Iya, dia tidak bisa tidur karena hidungnya mampet. Tadi malam dia menjerit di telinga saya. Dia minta saya melakukan sesuatu agar dapat bebas bernafas. Dia alergi debu. Dia kira dengan datang ke saya semua masalah selesai!” ucap Yohana yang berasal dari Brasil sambil melirik Juan yang asik makan potongan buah Melon.

“Oh…, ya…, ibu bisa mengatasi semua masalah!” ucap saya tertawa.

“Ya…, mereka kira kita punya tongkat ajaib yang bisa kita gunakan kapan saja dan semua masalah selesai,” ucap teman saya Jane dari Philipina.

“Yap…, ibu tahu semuanya. Ibu hebat!” ucap saya lagi.

Apa yang dialami oleh Yohana, tentulah pernah dialami oleh semua ibu di negara manapun mereka berada, termasuk juga saya. Pengalaman yang kadang membuat kita kesal sekaligus bangga. Bagaimana tidak bangga jika anak kita menganggap ibunya serba bisa dan orang yang paling hebat di dunia ini!

Saat barang anak saya hilang, maka mereka akan berteriak:
“Bunda, dimana mobil-mobilan saya?
“Bunda dimana buku saya?”
“Bunda dimana baju saya?”
“Bunda…. Bunda…..”
“Hey…, kenapa tanya Bunda, kenapa tidak cari sendiri?”
“Karena Bunda tahu semuanya?”

Saat mereka tidak dapat melakukan sesuatu, maka  kembali mereka akan memanggil sang pahlawan.

“Bunda, saya tidak bisa masang ini.”
“Bunda, saya nggak tahu memperbaiki barang ini.”
“Bunda, saya nggak tahu apa jawaban pertanyaan ini.”
“Hey.., kenapa tidak dicoba dulu? Kenapa selalu panggil Bunda?”
“Karena Bunda serba bisa.”

Hm…, apakah memang seorang ibu serba bisa? Bahkan memiliki  kemampuan mengingat yang luar biasa? Mampu mengingat dimana anak meletakkan mainan yang selalu dibawa-bawanya. Dimana buku yang dipijam dari perpustakaan disimpan. Kapan harus hadir di kelas anak. Kapan harus belanja kebutuhan sekolah, dan lain-lain. Lalu bagaimana jika ibu tak bisa  menyelesaikan atau lupa sesuatu?

“Bunda, kenapa Bunda tidak bisa memperbaiki mainan saya? Bukankah Bunda tahu semuanya,” ucap putra saya sambil berlinang air mata.“
“Kenapa Bunda tidak hadir di sekolah. Bukankah Bunda ingat hari ini a Honor Day?”
“Kenapa rasa kuenya berbeda dengan yang dijual ditoko. Bukankah Bunda tahu cara bikinnya?”

Ah, ibu ternyata adalah seorang manusia biasa yang kemampuannya terbatas dan bisa lupa. Tetapi keterbatasan itulah yang membuat seorang ibu harus terus belajar dan berusaha mengembangkan kemampuan dirinya. Belajar dari pengalaman, belajar dari kesalahan, bahkan belajar dari anak-anak setiap hari.

Saya ingat saat pertama kali saya bertemu dengan bayi saya. Saat itu ada perasaan tak menentu yang saya rasakan. Bahagia…, tentu saja, karena saya telah menjadi ibu, masa sembilan bulan telah berlalu.  Setelah itu rasa takut pun hadir, karena saya tak  punya pengalaman dalam mengurus bayi. Cemas karena saya takut melakukan kesalahan tetapi saya ingin memberikan yang terbaik buat bayi tersebut.

Sejak hari itu, saya mulai belajar. Saya belajar kesabaran dari tanggisannya. Saya belajar tentang cinta dan kasih sayang dari setiap sentuhan lemah dari jari-jari mungilnya. Saya belajar tentang pengorbanan dari setiap tatapan matanya yang seakan berkata, “You are my hero. Please, protect me.”

Saya belajar menjadi seorang guru yang sabar saat mengajarinya cara berjalan. Saya belajar menjadi dokter yang bijak saat dia demam tinggi. Saya belajar menjadi juru masak makanan bergizi saat mengolah santapannya. Saya belajar menjadi physikolog yang teliti dalam memahami perkembangan jiwanya. Saya belajar jadi janitor yang patuh saat membersihkan kotorannya.

Belajar…, belajar…,  belajar…, sungguh tidak ada pernah kata berhenti untuk itu. Walaupun usia anak sudah tidak lagi balita. Mereka sudah bisa memahami bahwa ibunya tidak dapat membuat semua kue yang mereka lihat di toko ataupun TV.  Pahlawannya tidak dapat hadir menyelesaikan semua persoalaan yang mereka hadapi. Bahkan orang yang dulunya mengerti setiap tanggisannya sudah tidak dapat memahami mengapa tiba-tiba dia berlinang air mata.

Waktu berjalan terus, mereka tumbuh menjadi jiwa yang mandiri.  Mereka butuh penjelasan dari setiap larangan. Mereka butuh kesempatan untuk mencoba hal-hal yang baru. Mereka butuh jawaban dari setiap pertanyaan. Mereka butuh waktu untuk bergaul dengan usia sebayanya. Mereka butuh kebebasan tanpa ada mata-mata yang mengawasi. Mereka butuh pengertian dari setiap keputusannya. Mereka butuh maaf dari setiap kesalahan yang terjadi.

Belajar…, sekali lagi saya harus belajar. Belajar dari buku, pengalaman, dan pelaku kehidupan. Belajar agar saya dapat selalu mengerti dan memahami tubuh dan jiwa mereka. Sehingga saya masih dapat mendengar mereka berkata, “Bunda tahu semuanya!” Lagipula bukankah menjadi orangtua adalah proses pembelajaran seumur hidup?

Ditulis khusus dalam rangka lomba penulisan ulang tahun milis BeingMom.org

2 Responses leave one →
  1. 2010 May 3
    Sari permalink

    Hi mb, sy suka dgn artikel ini. Bunda tahu semuanya! Dan karena itu kita harus terus belajar. Tapi dalam proses belajar itu, kadang orang2 disekitar kita tidak mendukung, sy bahkan merasa selalu dipersalahkan krn dianggap tidak tahu apa2. Bagaimana ya mb, mengatasinya???

  2. 2010 May 3

    Dear Sari, memang terasa sulit jika orang di sekitar kita selalu menyalahkan diri kita, mereka merasa serba tahu dan menganggap kita orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Padahal tidak ada manusia di dunia ini yang tahu semuanya. Semua masih tahap belajar, dan semakin kita belajar, kita semakin tahu bahwa pengetahuan yang kita miliki itu tidak ada apa-apanya. Lain kali jika Sari berhadapan dengan mereka lagi, katakan saja: “makanya itu saya belajar karena saya tidak tahu apa-apa. Saya belajar dari buku, dari dokter, dari ahlinya, bukan dari kata orang.” Saat mereka merespon sesuatu dan merasa pendapatnya yang paling benar, Misalnya dalam hal pengasuhan anak, Tetaplah pada pendirian Sari, selama Sari yakin bahwa pendapat Sari itu benar 🙂

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS