Up…., hampir saja saya….

2010 March 7
by Meidya Derni

“A mother’s joy begins when new life is stirring inside… when a tiny heartbeat is heard for the very first time, and a playful kick reminds her that she is never alone.”

Up, hampir saja saya menyerah, tetapi… ternyata….


Never give up, itulah pelajaran berharga yang saya peroleh setelah menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa lama. Awalnya saya ingin menjadikan naskah saya menjadi sebuah buku yang diterbitkan dengan usaha mandiri seperti buku Serba Serbi Menyusui.

Tetapi ternyata biaya yang dibutuhkan untuk mencetak 3000 buku itu tidaklah sedikit dikarenakan naskah tersebut lebih tebal dan biaya kertas naik. Maka saya pun memutuskan untuk menjadikan naskah tersebut menjadi audiobook.

Awalnya saya mengira biaya pembuatan audiobook tersebut akan lebih murah dari mencetak buku, tetapi ternyata anggaran yang dibutuhkan 3X lebih besar dari mencetak buku.

Semangat saya pun turun saat membaca proposal anggaran biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan saya dari sebuah stasiun radio. Padahal saya sudah membayangkan betapa saya dapat membantu banyak ibu hamil yang tidak memiliki waktu membaca buku, tertidur saat membaca, mudah lelah ataupun mereka yang hanya dapat terbaring selama menjalani kehamilan.

Saya teringat saat saya hamil pertama, dimana bulan-bulan pertama saya harus terbaring sendiri di rumah sakit ataupun tempat tidur di rumah tanpa keluarga yang menemani. Saat itu persiapan sebagai ibu saya rasakan sangat kurang akibat kondisi saya. Jangankan untuk membaca buku, mencari info di internet, duduk saja pun saya tak mampu. Bayangkan, alangkah indahnya jika saat tersebut ada audiobook tentang kehamilan dan melahirkan yang dapat didengarkan, hingga saya tak merasa tak berdaya dan bosan menghitung hari yang seolah tak bergerak. Maka saya pun bertekad tetap mewujudkan keinginan saya apapun tantangannya!

“Apa yang honey ketahui tentang pembuatan audiobook?” tanya suami pada saya ketika mendengar ide nekat saya.
“Tidak ada, tetapi khan bisa cari tahu,” ucap saya penuh keyakinan.
“Iya, kerjain sendiri yah,” cetus suami yang sudah tahu pasti ujung-ujungnya saya minta bantuan beliau he..he..

Keinginan tidak akan tercapai tanpa melakukan suatu tindakan. Maka suatu hari saya nekat pergi ke best buy mencari peralatan untuk rekaman. Tentu saja saya yakin suami saya pasti akan ikut. Karena saya yakin beliau pasti sadar sepenuhnya bahwa membiarkan isterinya yang tidak tahu apa-apa tentang peralatan elektronik pergi belanja sendiri amat beresiko. Barang-barang yang dibutuhkan bukan barang murah dan tagihannya pasti yang bayar beliau he..he..

Akhirnya mulailah pertualangan di dunia baru, dikarenakan barang sudah dibeli, yah mau tidak mau suami harus terjun mempelajari bagaimana caranya menginstall peralatan tersebut.
“Tuh…, khan ujung-ujungnya saya yang melakukan,” gerutu suami ha..ha…

Saya pun mulai belajar mempergunakan alat tersebut dan belajar mengunakan software audio. Mencari ruangan di rumah yang tidak berisik, kalau bisa kedap suara, tidak memantulkan suara untuk dijadikan studio rekaman. Singkat cerita saya pun mulai rekaman di “studio” di rumah saya. Winter tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Kota saya yang tidak biasanya turun salju, bersalju. Berada di “studio” seperti berada di dalam lemari es. Tidak mungkin saya menghidupkan heater karena suara mesin akan terekam.

Saya pun menyiasatinya dengan memakai baju berlapis-lapis, dari ujung kaki sampai kepala saya tutupi, tetapi tetap saja saya kedinginan. Tentu saja akibatnya waktu yang diperlukan semakin lama. Dalam membaca satu paragraf saja berkali-kali diulang, karena suara saya bergetar menahan dingin. Saya pun mulai putus asa.

Beberapa saat saya tinggalkan pekerjaan tersebut, mengumpulkan semangat agar kembali menyala. Apalagi saya mulai terkena flu.

“Wah kalau saya sakit parah dan pekerjaan ini belum selesai bagaimana?” tanya saya pada diri sendiri.
“Masa sudah beli alat, terus main tinggal saja! Masa begitu saja menyerah! Kamu selalu bilang ke anak-anak never give up! Nah sekarang menyerah! No way!” dialog saya pada diri sendiri.

Kembali saya bersemangat menyelesaikan rekaman audiobook tersebut, walaupun hampir tiap malam saya harus begadang. Setelah rekaman selesai saya pun melakukan editing yang ternyata sulit dan lebih memakan waktu dari rekaman itu sendiri! Saya harus mendengarkan audio/detik dan menyimaknya baik-baik dengan penuh konsentrasi.

Setelah editing selesai dilakukan tahap penyelesaian dengan menambahkan latar belakang musik pengantar. Ini pun ada triknya sendiri, kapan musik harus masuk, kapan harus keluar dengan manis. “Ah pantas saja biaya pembuatan audio yang diminta begitu mahal, kerjaannya banyak!”

“Mbak, tidak takut dibajak tuh?” tanya teman saya ketika saya mengatakan bahwa ebook dan audiobook sudah siap.
“Biarlah Allah yang jadi penjaganya, karena Dialah sebaik-baiknya penjaga” jawab saya menghibur diri.

Alhamdulillah, kini saya sudah dapat bernafas lega, rasanya seperti baru melahirkan bayi 🙂 Senang karena satu kerjaan sudah selesai, deg-degan karena ada kerjaan selanjutnya yang menanti.

Happy Melahirkan, itulah pekerjaan yang selama berbulan-bulan pengerjaan audionya membuat emosi saya tidak menentu. Kadang saya penuh semangat, lalu sedih, kecewa, kesal, semangat kembali. Lalu menangis karena saya harus melakukan pekerjaan kembali dari awal akibat suatu kesalahan yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Anak-anak saya tinggalkan belajar, bermain sendiri, karena saya butuh banyak waktu menyendiri di “studio”.

Dalam menyusun naskah pun emosi saya terlibat, setiap hari saat berada di gym acara yang saya tonton A Baby Story di stasiun TLC. Acara tentang proses melahirkan bayi secara normal ataupun melalui sesar. Saya deg-degan saat menonton detik-detik proses pengeluaran bayi. Saya bahagia saat bayi yang berlumuran darah tersebut berhasil menjerit menyapa dunia. Saya menangis saat sang ibu menangis bahagia.

Kini saya berdoa apa yang telah saya lakukan dapat bermanfaat bagi para ibu hamil dan juga calon ayah. Semoga ibu-ibu hamil yang tak punya waktu membaca, ataupun terbaring di tempat tidur dapat mendengarkan audiobook Happy Melahirkan bersama suami!

Sehingga keluhan terbesar para ibu hamil terhadap suami yang cuek, dapat teratasi. Suami yang malu untuk membaca buku kehamilan dan melahirkan tidak perlu malu mendengarkan audiobook Happy Melahirkan. Ibu dan suami tidak hanya mendapatkan pengetahuan seputar awal kehamilan, masa kehamilan sampai perawatan paska melahirkan. Bahkan apa yang harus suami lakukan pun ada di audiobook ini. Plus saran dan tip-tip jitu dari yang sudah berpengalaman.

Pengalaman melahirkan sungsang, premature, ketubah hijau, kebas, wasir, dll sampai pengalaman depresi pun diungkapkan disini untuk menambah kesiapan calon ibu dan suami.

Akhirnya saya berharap setiap ibu hamil dapat sukses menjalani proses kehamilan dan persalinan dengan bahagia. A great joy is coming!

Mobile, 3 Maret 2010
Meidya Derni

Ps: Jika Anda memiliki mimpi, do something now! Walaupun semua orang menentang Anda!

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS