Keamanan Anak

2009 November 29
tags:
by Meidya Derni

Semalam saya berbincang-bincang dengan seorang teman. Perbincangan kami mulai dari makanan, black friday, sampai dengan masalah kekerasan pada wanita dan anak-anak. Awalnya perbincangan kami santai, tetapi setelah meningkat membahas kasus kekerasan, pembicaraan kami menjadi serius.

Teman saya membagikan pengalamannya saat bekerja di lembaga sosial yang menangani masalah kekerasan yang dialami oleh wanita dan anak-anak. Sebelumnya dia tidak tertarik dengan masalah tersebut. Tetapi setelah hal buruk terjadi pada dirinya akhirnya dia pun bekerja beberapa tahun di lembaga sosial tersebut.

Teman saya bercerita bahwa kekerasan seksual yang terjadi pada anak biasanya dilakukan oleh keluarganya sendiri! Contohnya saja apa yang terjadi pada putranya. Saat itu putranya berusia 7 tahun. Dia menjadi mangsa ayah kandungnya sendiri. Tentu saja hal tersebut merupakan pukulan telak bagi teman saya. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya yang dia hormati, dia sayangi memangsa anak kandungnya.

Selama 7 bulan anaknya hidup dalam cengkraman nafsu ayah kandungnya. Semua itu terbongkar saat si anak bercerita pada temannya tentang apa yang dilakukan ayahnya. Saat itu ibu temannya mendengar apa yang dikatakan oleh anak tersebut. Segera saja teman saya dipanggil untuk dipertemukan dengan anaknya.

“Saat itu saya merasa dunia yang saya pijak runtuh. Kepala saya mau meledak, saya mau bunuh suami saya seketika,” ucap teman saya. Selama itu anaknya tidak berani bercerita pada ibunya karena ayahnya mengancam akan membunuh ibunya jika dia bercerita. Karena cintanya anak pada ibunya anak tersebut diam saja.

Akhirnya si ayah di penjara selama 8 tahun sedangkan anak dan ibunya di terapi karena keduanya adalah korban. Untuk teman saya, dia bisa berdamai dengan pukulan tersebut, tetapi bagi anaknya terapi masih terus dilakukan walaupun dia sekarang sudah berusia 18 tahun.

Saya pun bertanya pada teman saya, apakah dia tidak pernah sedikit pun menaruh kecurigaan pada suaminya dan anaknya. Teman saya menjawab tidak. “Saya merasa tidak ada yang berbeda dengan suami saya. Selama itu saya merasa hubungan ayah-anak baik-baik saja. Saya tinggalkan dia di rumah dengan ayahnya saat saya belanja. Saat saya tidur siang, dia main dengan ayahnya. Hubungan dalam pernikahan pun tidak ada masalah, semua tidak ada yang mencurigakan. Makanya saya merasa benar-benar terpukul.”

Korban lain anak-anak yang pernah teman teman saya tangani adalah anak perempuan yang jadi korban kakaknya, anak perempuan yang jadi korban kakeknya, bapaknya dan pamannya.

Lalu teman saya berkata bahwa ada kesamaan dari setiap korban, bahwa setelah kejadian tersebut korban merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya. Pelaku membuat korban percaya bahwa jika dia mengadu maka hal buruk akan terjadi pada dirinya ataupun orang yang dia cintai.

Pelaku benar-benar membuat korban berada dalam cengramannya, sehingga apapun yang dikatakan pelaku dipercayai oleh korban. Jika pelaku berkata kamu itu sampah, maka dia percaya bahwa dia sampah dan pantas diperlakukan seperti sampah.

Ada pula anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dia kira begitulah cara orang dewasa menunjukkan kasih sayangnya. Sampai akhirnya dia mengerti bahwa itu tidak benar.

Untuk itu jika Anda memiliki anak, baik laki-laki ataupun perempuan, ajaklah anak Anda sedini mungkin untuk bicara mengenai tubuhnya. Katakan bagian mana saja yang boleh disentuh dan bagian mana yang merupakan privacy anak. Walaupun dia keluarga dekat tetap tidak boleh melanggar “privacy’ anak. Jika ada orang berkata jangan bilang-bilang, itu tandanya bahaya maka dia harus segera bercerita pada orang yang dia percayai. Semoga semua wanita dan anak-anak di dunia ini dilindungi selalu. (MeidyaDerni.com)

2 Responses leave one →
  1. 2009 November 30

    Sungguh saya ingin menangis rasanya. Apa yg menyebabkan mereka bisa melakukan perilaku seks yg tidak normal seperti itu ya?

  2. 2009 December 5

    Jiwa mereka sakit. Semoga Allah senantiasa menjaga kita

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS