Tolong, Anak Saya Tidak Mau Mendengar!

2009 October 14
tags:
by Meidya Derni

Apa yang dapat kita lakukan agar anak berprilaku baik? Setiap anak pasti pernah berprilaku buruk, membantah, melawan, bahkan tidak mau mendengar. Karena memang begitulah cara mereka belajar. Mereka mencoba mencari tahu apa yang mereka bisa,  tidak bisa lakukan dan mencari tahu sampai sejauh mana batasan yang dapat dilakukan. “Berapa banyak yang dapat aku lakukan sebelum ada yang menghentikan aku?”

Mereka ingin mempelajari aturan-aturan kehidupan. Anak-anak pun memiliki temperamen sendiri-sendiri. Ada yang dapat dengan mudah mengikuti aturan, ada yang hanya untuk untuk menghindari konsekuensi, atau mencoba untuk menetapkan peraturan mereka sendiri.

Berikut ini cara yang dapat Anda lakukan agar anak mau mendengar Anda.

Pastikan anak Anda mendapat cukup tidur.
American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa anak-anak harus secara konsisten memperoleh setidaknya sembilan hingga sebelas jam tidur setiap malam. Ketika anak-anak kurang tidur, bukan hanya secara negatif mempengaruhi kesehatan mereka, tetapi juga dapat membuat lebih sulit bagi mereka untuk mengendalikan perilaku mereka.

Buat rutinitas.
Rutin bagi anak-anak memberikan struktur dan lingkungan yang menumbuhkan perasaan aman, nyaman, kepercayaan, dan mengurangi kecemasan. Mereka tahu apa yang diharapkan, merasa lebih memegang kendali dan dapat belajar dengan mudah. Rutinitas memberikan anak-anak lebih memahami dunia mereka dan bagaimana mereka diharapkan berperan di dalamnya.

Buat Aturan Yang Jelas dan Mudah Diterima.
Kedengarannya sepele, tetapi orangtua sering tidak memberitahu aturan pada anak-anak. Misalnya saja saat belanja, orangtua dapat memberitahukan aturan pada anak, “Kita tidak membeli mainan di toko, kecuali bahan makanan. ”

Konsisten.
Anak-anak mengerti sebab dan akibat. Jika kita tidak konsisten dalam situasi tertentu, maka anak-anak kita akan belajar bahwa perilaku mereka adalah cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak ada yang lebih penting daripada konsistensi.

Hindari perkataan “Tidak, Tidak, Tidak, Ya”
“Tidak, tidak, ya,” hanya mengajarkan anak-anak untuk bertahan untuk mendapatkan keinginan mereka. Mereka  bertahan dengan menangis sampai orangtua tidak tahan dan kemudian menyerah.

Stop Kegiatan Saat Menegur Anak

Hentikan apa yang Anda lakukan, ketika menegur anak saat melakukan kesalahan. Letakkan telepon, hentikan mobil, atau hentikan kegiatan masak Anda. Ketika Anda berhenti melakukan kegiatan dan pergi ke anak Anda, maka anak mengetahui adanya perilakunya  tidak pantas. Anda mengoreksi anak Anda segera setelah tindakannya.

Berbicaralah kepada anak Anda di level mata.

Jika berbicara dengan anak-anak kecil  berlutut, membungkuk atau duduk di lantai sehingga anak dapat melihat ke mata Anda, sehingga anak dapat melihat keseriusan Anda. Untuk anak yang lebih tua, duduk adalah metode terbaik, di lantai atau di kursi, apa pun yang nyaman.

Terima perasaan anak Anda.
Ketika anak Anda melakukan kesalahan, biarkan dia tahu bahwa Anda mengerti atau Anda mencoba untuk mengerti apa yang dirasakannya. “Mama tahu kakak menginginkan mainan, tapi adikmu sedang bermain dengan itu.” Bicaralah dengan nada normal suara.

Ketika Anda marah dengan anak Anda, cobalah untuk tidak berteriak atau meninggikan suara.
Jelaskan kepada anak Anda apa yang dia lakukan salah. Dia mungkin tidak tahu.

Menawarkan pilihan pada anak Anda.

Berikan anak pilihan antara dua kegiatan yang Anda usulkan. “Sudah waktunya untuk makan. Kamu ingin duduk di samping ayah atau ibu?” Dengan demikian anak tetap merasa berkuasa pada dirinya.

Arahkan pada kegiatan lain
Pandu anak Anda ke aktivitas baru, saat dia tidak dapat lagi dapat melakukan apa yang dia ingin lakukan. “Abang dapat membangun dengan blok. Abang tidak dapat bermain dengan blok jika Abang melemparnya. Abang dapat melempar bola. ”

Memiliki konsekuensi logis untuk perilaku yang tidak pantas.
Jangan biarkan anak Anda untuk terus melakukan apa yang dia ingin lakukan, kecuali apabila dia melakukannya dengan tepat. “Kamu dapat menulis di atas kertas. Kamu tidak dapat menggunakan spidol jika kamu menulis di dinding.” Jika Anda mengatakan kepada anak Anda bahwa akan ada konsekuensi tertentu untuk tindakan yang tidak tepat, maka berikan konsekuensi tersebut.

Ketika anak kecil mengamuk, ingatlah bahwa dia masih belajar untuk mengendalikan emosi dan tindakan. Bahkan kita yang dewasa saja masih terus belajar untuk mengendalikan diri dan emosi.

Terakhir, jangan menyalahkan diri sendiri ketika Anda melanggar semua aturan yang sudah Anda tetapkan. Orangtua sempurna jarang terjadi. Anak adalah anak-anak dan orang tua adalah orang tua, jadi lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan.  Jangan menyerah, hinga mereka bisa tumbuh baik. Jangan lupa anak-anak orang lain yang tampak sempurna belum tentu sempurna.

One Response leave one →
  1. 2010 November 2
    Susy Purnamasari permalink

    Terima kasih artikelnya.
    Ini artikel yang saya cari.
    Masalah yang saya hadapi sama persis dengan judul artikel ini. Jadi saya rasa ini adalah masukan buat tahap awal saya untuk memperbaiki komunikasi dengan anak saya.
    Salam.

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS