“Yes, I can do it!”

2009 June 11
by Meidya Derni

drive“Hanya 3 mil dari Moffet Road,” demikian Shelby menjelaskan pada saya dan Eman, mengenai perkebunan sayuran.

“Wah kalau begitu dekat,” pikir saya saat itu, mengingat Moffet Road hanya sekitar 8 mil dari tempat tinggal saya.

Dari pembicaraan sore itu kami pun sepakat suatu hari akan pergi bersama-sama untuk membawa anak-anak kami ke kebun sayuran dan memetik sayuran guna mengisi liburan summer.

Kemarin, akhirnya kami pergi bersama-sama ke kebun sayur. Agar anak-anak menikmati perjalanan maka kami putuskan untuk memakai 2 mobil saja menuju tempat tersebut. Saya dan anak saya berada di mobil Eman beserta dua anaknya. Sedangkan anak Eman yang lainnya dan anaknya Shelby di mobil yang dikendarai Shelby.

Sepanjang jalan anak-anak mulai berkicau, menjahili satu sama lain. Mulailah terdengar teriakan dari bangku belakang. Dari mulai protes kepanasan karena AC bagian belakang mobil tidak menyala sampai bosan karena belum sampai juga.

“Meidya, kemana kita akan pergi? Ini sudah Moffet Road. Mengapa masih belum ada tanda-tanda berhenti?” tanya Eman pada saya.

“Ya, ikuti saja mobil Shelby, nanti juga sampai,” ucap saya menenangkan teman saya yang mulai resah.

Mobil terus melaju, anak-anak pun terus bersuara tidak pernah berhenti. Habis menjerit terus tertawa, lalu protes, tertawa lagi, menjerit lagi begitu terus.

“Meidya, saya serius, kita ini kemana, ini sudah hampir satu jam dijalan kok tidak ada tanda berhenti,” protes Eman yang semakin resah.

“Ya mana saya tahu, ini kan pertama kali juga untuk saya,” balas saya, pura-pura tidak melihat teman yang semakin gelisah.

“Meidya, kita ke highway, keluar state! Suami saya tidak tahu kalau kita akan pergi keluar state begini. Dia tidak mengijinkan saya mengendarai mobil di highway. Dia tidak percaya saya! Saya takut!”

Saya lirik tangan teman saya mulai basah dan gemetar memegang kemudi.

“Eman, nggak apa-apa, jalan tidak ramai. Lagipula ini kesempatan buat kamu,” ucap saya menenangkan dirinya. Saya pun meminta anak-anak untuk diam sesaat agar teman saya tenang.

Welcome to Missississippi  .

“Hey,kita sudah di luar Alabama,” teriak anak-anak yang membaca kalimat tersebut di tepi jalan.
“Saya mau pulang ke rumah! “Saya mau kembali ke Alabama! Saya kangen Mobile!” Satu-satu mereka mulai bersuara membuat teman saya semakin panik.

“Nak, Insya Allah kita kembali ke rumah, sudah berdoa saja,” ucap Eman yang semakin takut. Mulailah Eman mengajak anak-anak untuk berdoa dengan suara keras. Saya menahan senyum dengan mata yang tetap menatap ke depan.

“Eman, belok kanan di depan,” ucap saya mengingatkan Eman.

Barulah saya mengerti ternyata jalan yang berpuluh mil kami tempuh itu bernama Moffet Road. Memang jalan di USA dari ujung ke ujung kalau masih lurus ya namanya sama.

Sampai di perkebunan ternyata sudah pukul 12 siang, matahari dengan galaknya sedang membakar perkebunan yang terbuka tanpa ada pohon besar untuk berteduh. Saat turun dari mobil anak-anak sudah berharap akan disabut kipasan angin segar. Ternyata harapan mereka tak kesampaian, proteslah mereka.

Saat memetik tomat, paprika, eggplant yang segar, mereka sempat lupa dengan panasnya matahari yang membakar kulit mereka. Apalagi mereka senang berlarian diantara pohon-pohon yang tingginya 1/2 meter saja.

Karena tidak mengira akan pergi sejauh itu, maka kami tidak membawa perbekalan air minum, akibatnya anak-anak kehausan. Mencari minum di lahan pertanian terbuka tentulah hal yang tidak mudah. Segeralah kami pulang. Rencana untuk memetik timun, squash, dll dibatalkan.

Perjalanan pulang tak kalah serunya. Teman saya yang akhirnya bangga bisa nyupir di highway mulai berani mengambil lajur kiri. Tetapi dia tidak berani ngebut, akibatnya dia ngeblok jalan.

“Eman, kamu harus ke kiri di belakang mobil Shelby atau mendahului mobil Shelby,” ucap saya pada Eman.

“Nggak apa-apa Meidya disini saja, samping mobil Shelby,” balasnya.

“No, Eman. Kita tidak bisa ngeblok jalan seperti ini! Bahaya. Lihat mobil truk dan mobil lainnya di belakang kita. Mereka ingin melaju.” ucap saya tegas.

“Truk! Apa yang mesti saya lakukan,” balas teman saya panik.

“Ngebut dikit, naikan kecepatannya. Dahulu mobil Shelby,lalu biarkan Shelby mendahului kamu dari kiri,” perintah saya.

“Ok, saya ngebut,” ucap teman saya sambil membesarkan matanya.

Setelah keadaan terkendali, teman saya berkata, “Wow Meidya, I did it! I am happy! I’m proud of my self!”

Saya pun tersenyum ke arahnya, “Yes Eman! You did it!”

Saat sampai di rumah, teman saya masih tampak gembira karena berhasil sampai di rumah dengan selamat. Saat suaminya datang dengan bangga dia bercerita bahwa dia berani nyupir di highway.

“Yes, I can do it!”

Nah bagaimana dengan Anda beranikah melakukan apa yang Anda takuti?

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS