PeDe Bicara Dengan Suami

2009 April 8
tags:
by Meidya Derni

ring“Saya sudah membaca buku Catatan Cinta Sang Isteri. Saat membaca buku tersebut saya merasa Mbak sedang menuliskan kisah hidup saya.  Terkadang saya merasa tidak sanggup lagi dan ingin cerai, tetapi setelah membaca buku tersebut saya mendapat pencerahan. Walaupun sampai saat ini saya masih berusaha untuk bisa bicara dengan suami. Susah Mbak bicara dengan suami.”

Demikian sepengal cuplikan email yang saya dapat dari pembaca buku yang saya tulis. Mungkin sebagian orang akan berpikir “masa bicara dengan suami tidak bisa” atau “bicara dengan suami saja takut”.

Tetapi itulah kenyataan yang terjadi dikehidupan kita. Tidak pandang tempat, ntah itu di Indonesia, di Amerika, di Jepang ataupun di negara lain. Masalah komunikasi pasangan sama seperti masalah komunikasi antara orangtua dan anak. Kedua belah pihak tidak menyadari bahwa sebenarnya ada sesuatu yang salah terhadap cara kita berkomunikasi.

Saat kita berkomunikasi ada 2 pihak yang terlibat, penyampai pesan (pembicara) dan penerima pesan (pendengar). Komunikasi akan berjalan dengan baik jika pendengar bisa menerima maksud dari pembicara dengan baik dan benar. Akan menimbulkan masalah jika ternyata pendengar tidak dapat menerima pesan yang disampaikan oleh pembicara dengan baik dan benar. Akibatnya timbul kesalah pahaman.

Banyak faktor mengapa pesan yang disampaikan tidak sampai ke pendengar dengan baik dan benar. Misalnya pembicara mengunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh pendengar. Pembicara mengunakan bahasa Jepang, sedangkan penerima berbahasa Indonesia. Komunikasi jadi tidak nyambung. Begitu juga dengan kehidupan pernikahan. Isteri pakai bahasa tubuh, sedangkan suami tidak mengerti bahasa tubuh. Akibatnya isteri frustrasi, suami kesal tidak mengerti maunya istri. Untuk itulah pakailah bahasa yang dimengerti kedua belah pihak dengan jelas dan singkat.

Ada satu kisah yang melekat di benak saya. Suatu ketika saat rapat dengan teman-teman (Pasutri) seorang teman wanita berkata, “saya tidak suka  jika A  jadi ketua organisasi kita.”  Teman saya itu tidak menjelaskan alasannya dengan kata-kata, tetapi dia menjelaskan alasannya dengan bahasa tubuh.   Badannya meliuk, bibirnya mencibir, matanya membesar.  Seorang Bapak yang memimpin rapat kesal melihat hal tersebut.

“Ngomong donk.. .!  Ngomong…!  apa alasannya!  Kenapa sih perempuan itu nggak suka ngomong dengan jelas! Memangnya para suami itu psychic apa!”

Hal lain juga yang perlu diperhatikan dalam komunikasi dengan pasangan adalah perbedaan antara pria dan wanita. Allah menciptakan wanita dengan segala kelebihannya yang dipersiapkan untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. Tak heran jika perasaan kita sebagai perempuan itu lebih sensitif dibandingkan laki-laki. “Kok suamiku tega sih bicara seperti itu pada saya. Apa dia tidak mengerti perasaan saya?!”

Padahal suasana emosional pasangan juga sangat mempengaruhi mutu saling pengertian. Jika suasana yang tercipta selama percakapan tenang dan nyaman, biasanya baik pembicara maupun pendengar mampu menyerap isi percakapan dengan perasaan positif.  Namun jika ada kecemasan, perasaan tegang, pendengar mungkin terlalu tegang untuk menangkap apa yang dipercakapkan.

Untuk itu cobalah untuk memilih waktu yang tepat untuk masalah yang serius. Jika ada sesuatu pada pikiran kita  yang mengganjal dan perlu disampaikan pada pasangan, atau tentang masalah yang saat ini sedang menjadi sumber pertengkaran. Berbicaralah pada saat kondisi pasangan atau diri kita sendiri dalam taraf yang normal dan tidak emosi. Bicarakan baik-baik dan dengan kepala dingin, utarakan maksud  dan tujuan kita dan sebaliknya, sehingga terjadi komunikasi yang baik antara Anda dan pasangan.

Ada pesan yang masih melekat pada saya sejak mengikuti Muktamar Indonesian Muslim Society in America (Imsa) dari Bu Elly Risman, beliau berpesan jika sulit  berbicara dengan suami, cobalah berbicara setelah hubungan intim. Saat itu kondisi kejiwaan suami sedang tenang. Bicaralah dengan tenang dan jangan menyalahkan. Selalu ingat perbedaan antara pria dan wanita. Kalau bicara dengan suami jangan kemana-mana tetapi focus pada hal yang ingin disampaikan.

Lalu bagaimana jika waktu sehabis ibadah tersebut pun tidak ada? Pasangan tidak ada waktu,tidur atau keletihan. Jika hal tersebut terjadi cobalah mempersiapkan diri sebelumnya. Persiapan  waktu, suasana, untuk diri sendiri dan juga untuk suami, sehingga hal tersebut tidak perlu terjadi.

Komunikasi itu melibatkan 2 pihak, tetapi ada orang yang merasa ia baru bisa dibilang berhasil dalam pembicaraan jika selama masa percakapan dialah yang memegang peranan utama. Dia bisa mengeluarkan pendapat-pendapat yang membuat pendengar bungkam seribu basa. Orang itu lupa bahwa keberhasilan pembicaraaan pada akhirnya juga menyangkut soal bagaimana hasil pembicaraan itu bisa diterima semua pihak.

Pasangan yang belajar saling mendengarkan, dengan pemahaman dan toleransi sering mendapati bahwa mereka tidak perlu saling berubah. Seperti halnya dalam sebuah perkawinan, mungkin perkawinan tidak bertujuan meniadakan perbedaan, tetapi hidup bersama dengan perbedaan – perbedaan itu. Pasangan-pasangan yang bijaksana menerima perbedaan-perbedaan yang Ada. Perkawinan gagal bukan karena perbedaan-perbedaan yang menjadi masalah, tetapi bagaimana kita menangani perbedaan-perbedaan itu.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS