Petualangan Dini Hari

2009 April 1
tags:
by Meidya Derni

sunriseSunrise terlihat menintip di celah-celah pohon. Rasa kantuk mengantung di pelupuk mata. Kehangatan belaian lembut selimut membuatku enggan berpaling. Tetapi aku harus bangun memulai petualangan dini hari. Mencari barang impianku.

Anti mengendarai mobil dengan cepat. Memecah kesunyian kota Mobile. Menyelusuri jalan-jalan yang sepi tanpa kendaraan yang meluncur. Tujuan kami adalah Brandon Places, perumahan mewah yang terkenal kebiasaan uniknya.
“Kita ini lucu yach…, dua wanita yang subuh-subuh mencari harta karun,” candaku pada Anti.
“Iya, para prianya masih tidur! Mereka tidak tertarik sama sekali! Buat mereka ada tempat tidur dan meja belajar sudah cukup!” timpal Anti.
Kami pun tertawa. Teringat para suami yang sedang menikmati kehangatan dekapan selimut.
“Mbak, itu tempatnya!” tunjuk Anti dengan tatapannya.
Bergegas kami turun dari mobil. Mengahampiri dump trunk yang berwarna hijau. Disampingnya terletak beberapa tumpukan kotak dan barang-barang yang tidak terlihat jelas.
“Komputer tua! Barang-barang elektronik yang sudah tua!” ucapku pada Anti yang sibuk membongkar kardus-kardus.
“Iya, tidak ada yang menarik!” hujat Anti. “Tidak seperti minggu lalu. Aku mendapatkan lemari pendingin, toaster, pan, kaset video yang semuanya masih terlihat baru,” lanjut Anti.
“Ya, sudah! Ayo kita pulang!”
“Tunggu mbak, ada buku novel tua yang menarik nich!” tahan Anti. Duduk dihadapan sebuah kardus.  Sibuk memilih buku-buku.
Kesibukannya menular padaku.  Aku duduk disisi Anti.
“Ini buku tentang perang sipil,” ucapku pada Anti. Sambil mengambil sebuah buku bergambar pedang.  Kamipun larut dalam kesibukan memilah buku yang beruntung mendapatkan tuan kembali.
“Kalian suka dengan buku-buku tersebut!”  Terdengar suara yang mengejutkan dari belakang punggung kami. Seketika kami terpaku. Buku ditanganku terjatuh. Jantungku berpacu cepat.  Siapa yang ada di belakang kami? Ketakutan mencengram hatiku. Kupegang tangan Anti yang terasa dingin. Tanpa komando, kami berdua membalikan badan seketika.
“Maaf, mengejutkan! Barang-barang ini berasal dari rumahku. Aku harus kembali ke Paris!” jelas pria muda yang menghadap pada kami.
“Oh,” kalimat itu yang keluar dari mulut Anti. Sedangkan aku hanya membisu. Berusaha mengembalikan detak jantungku pada denyut normal.
“Kalian mencari sesuatu?” lelaki itu bertanya dengan senyuman di bibirnya.

Malu menjalar di hatiku. Senyumannya semakin mencabik hatiku. Kami menjadi pemulung!
“Tidak, hanya kebetulan lewat!”  seru  Anti.
“Aku ingin mengosongkan rumahku hari ini. Mari ke rumahku, mungkin ada barang yang kalian butuhkan.!” ajak lelaki itu.
Aku dan Anti berpandangan. Keningku berkerut. Kerumahnya! Kenal juga tidak! Enak saja! Hatiku menggerutu. Mungkin saja dia berpura-pura. Pembunuh yang berlindung dibalik ketampanannya.
“Jangan takut aku tidak bermaksud jahat!” cetusnya seakan membaca pikiranku.
“Barang-barang disini semuanya berasal dari rumahku! Sejak tadi malam aku memindahkannya kemari,” tambahnya lagi.
“Bagaimana mbak?” tanya Anti dalam bahasa Indonesia yang tidak dimengertinya.
“Kamu percaya dengan laki-laki ini?”
“Kelihatannya dia jujur! Tetapi kita test dulu!” ujar Anti. Sebelum aku sempat berkata Anti telah berlalu menuju kardus yang berwarna biru.
“Jika Anda pemiliknya, sebutkan isi kotak  ini?” tantang Anti.
Lelaki itu tersenyum. “Itu kotak yang berisi pakaian!”
Anti membuka kotak tersebut. Sepasang alisnya bertaut. “Bagaimana dengan yang ini?” tunjuk Anti pada kotak  yang berwarna merah
“Itu adalah majalah-majalah tua dan piringan hitam musik tempo dulu!” terang lelaki itu .
Anti berjalan menuju kotak merah dan membukanya. Bibirnya mengukir senyuman.  “Ayo mbak!” ajak Anti menarik tanganku.
“Anti, apakah kamu yakin!”  Keraguan belum hilang dihatiku.
“Jangan khawatir mbak, nanti kalau dia macam-macam aku karate!  Aku sudah memotret pria ini dengan cell phoneku! Sudah kukirim ke rumah!” terang Anti.
Anak ini cerdik juga. Keraguan menghilang dari hatiku.
“Bagaimana kalian setuju!” tanya lelaki itu yang dari tadi membisu menonton kami.
“Ok! Dimana rumahmu?” tanya Anti.
“Itu yang terbuka pintunya!” tunjuk lelaki itu kepada rumah mewah bercat putih.
“Semua yang ada di ruangan ini harus aku keluar! Aku sudah menghubunggi Salvation Armi. Tetapi mereka tidak dapat mengambilnya hari ini. Aku sudah memasang iklan di surat kabar free stuff. Mungkin nanti siang orang baru berdatangan,” harapnya. Tangannya memberikan surat kabar yang berisi iklan free stuff.
“Mengapa kamu tidak menjualnya saja!” tanya Anti. Matanya menelusuri barang-barang yang bertaburan di setiap tempat.
“Siapa yang ingin membeli barang-barang tua seperti ini! Barang-barang ini milik orang tuaku. Mereka telah meninggal.  Aku tidak tinggal disini.”
“Apakah kamu tidak sayang terhadap peninggalan mereka?”  gumanku.
“Tidak, aku malah membencinya! Mereka lebih mencintai barang-barang ini dari pada aku anak tunggalnya!” ungkap lelaki itu. Kesedihan terbias diwajahnya. “Menurut mereka barang-barang ini antik dan berharga!  Ambilah apapun yang kalian inginkan. Aku tidak membutuhkannya.”
Lelaki itu berjalan menuju tumpukan kotak. Memindahkannya menuju dump trunk. Aku dan Anti hanya memandang tubuhnya yang berlalu.
“Mbak, barang-barang tua! Pantasan saja dibuang!” celetuk Anti.
“Ya, kita lihat-lihat saja! Barangkali ada yang menarik.”
Aku menuju meja yang tua hitam yang terletak di pojok ruangan. Kubuka laci meja tersebut. Kotak kayu berukir terdapat didalamnya. Perlahan kotak kayu aku buka. Sebuah jam tua yang unik. Dibaliknya tertulis “Patek Phillipe Watch.”

Tanganku membawa kotak tersebut. Menuju meja tua lainnya. Jemariku mulai bermain-main diantara hiasan meja.  Serasa shopping di mall, aku memilih dan membawa barang belanjaan. Cukup sudah barangku!  Jika mengikuti hatiku semuanya bisa berpindah ke apartementku. Bisa perang jadinya.
“Anti, sudah selesai?”
“Sebentar Mbak! Ternyata rumah ini seperti museum!
“Sayang tidak ada microwave,” ujarku. Keinginanku untuk bertemu dengan benda satu itu masih melekat di pikiranku.
Anti tersadar akan tujuan utama kami. “Ayo, mbak kita lanjutkan.”
“Kalian sudah selesai?” Lelaki itu sudah berada di hadapan kami.
“Ya, ini barang-barang yang kami kumpulkan. Apakah ada barang yang tidak boleh kami bawa?” tanyaku sambil menunjukan barang-barang tersebut.
“Tidak perlu kalian tunjukan! Bawalah sesuka kalian! Apakah kalian tidak butuh furniture?” lelaki itu berjalan sambil menunjuk furniture yang tertutupi beraneka macam benda.
“Oh tidak…, terimakasih,” ucap Anti.
Lelaki tersebut hanya tersenyum. Kami berlalu meninggalkanya dalam kesibukan.
“Mbak, kita ke garage sale yuk,” bujuk Anti.  “Siapa tahu bertemu dengan microwave!” tambahnya.
“Ok, kalau kamu tidak capek.”

Mobil kami meluncur menuju perumahan yang bertanda garage sale ataupun yard sale. Matahari menitip dengan malu-malu dibalik gumpalan awan. Cahaya tipisnya menerobos jendela mobilku. Bermile-mile kami tempuh. Bermacam-macam barang kami temui!  Tetapi tidak satupun barang impianku. Penasaran aku dibuatnya.
“Kita coba terus mbak!” dengan semangat Anti berkata.
“Sudah 4 jam kita berkelana! Apa kamu tidak lapar? Perutku sudah mulai menuntut jatahnya!”
“Kalau begitu kita mampir di Krispy Kream di depan!” usul Anti sambil memperlambat laju mobil.

Donat hangat berlapis gula kream berada membuat perutku semakin merintih. Serasa makan kapas, begitu lembutnya. Tidak mengenyangkan. Satu, dua, tiga, tanpa terasa aku telah melumat habis tiga donat yang terkenal kelembutannya. Anti masih terhanyut dalam kehangatan kopi di bibirnya.
“Kemana lagi kita akan pergi?”
Anti meletakan gelas yang ditangannya. “Ini korannya mbak. Silahkan mbak, pilih alamatnya,” pinta Anti.
Mataku membesar! Membaca iklan-iklan mini tersebut. “Tidak ada microwave! Kebanyakan pakaian dan furniture!”
“Jadi bagaimana?” tanya Anti. Bimbang akan tujuan kami.
“Ada acara menarik antique road show,” usulku pada Anti. Menunjukan iklan di surat kabar.
“Sejak kapan Mbak tertarik barang antique?”
“Di acara tersebut kita bisa tahu nilai barang kita,” kataku bersemanggat.
“Memangnya mbak punya barang antique?” goda Anti.
“Yang dimobil itu khan antique!”
“Kalau begitu, ayo mbak!”  Dengan semanggat Anti menghabiskan kopi di gelasnya.

Kami meluncur menuju 2703 Battleship Pkwy, Mobile City. Tenda-tenda besar berada di parkiran Battleship Memorial Park. Acara show akan diliput oleh public TV, PBS. Sebagai latar belakang show bekas kapal perang The USS DRUM (SS-228)  yang dioperasikan pada tanggal 12 Mei 1941 di Portsmouth Navy Yard, New Hampshire.
“Mbak lihat ini!” tunjuk Anti pada sebuah ukiran kayu yang berharga $120.  Ini banyak di  kota kelahiranku. Disana dijual murah.”
“Tentu saja beda! Ini khan barang antique. Lihat tanggal dibaliknya. 4 April 1940.”
“Coba! Apa bagusnya benda ini, hanya mainan plastik anak-anak!” protes Anti. Tangannya memegang mainan yang dikeluarkan salah perusahaan makanan Burger King  pada tahun 1980.
“Dan ini kereta bayi! Kalau di Indonesia kereta seperti ini masih dipakai,” sindir Anti. Tertawa ringan.
“Lukisan ini tidak ada bagusnya menurutku! Hanya tahun pembuatannya saja yang sudah tua!” Anti memperhatikan lukisan seorang wanita.
“Hanya kaca biasa! Furniture, hiasan dinding, kristal, alat makan, alat olah raga, kotak musik, sepatu, alat musik,” kicau Anti sambil berjalan.
“Setidaknya kamu tahu perkembangan barang-barang yang ada disekitar kita! Coba lihat gitar itu sederhana sekali. Tetapi dulu sanggat istimewa. Makanya harganya sekarang mahal,” terangku.
“Kalau begitu aku akan mengumpulkan barang! Nanti siapa tahu saat cucuku menjual harganya jadi tidak ternilai,” canda Anti.
Aku hanya tersenyum melihat ulahnya. Kami  berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Benda yang menurutku biasa ternyata harganya mahal sekali. Benda yang menurutku bagus ternyata harganya tidak seperti yang aku pikirkan!
“Anti, ayo kita mendaftarkan barang kita untuk diperkirakan berapa nilainya,” ajakku pada Anti. Menarik tangannya menuju satu tenda besar. Di dalamnya banyak pria berdasi dan cahaya lampu yang menyilaukan. Salah satu pojok, terdapat kamera stasiun TV.
“Kami ingin mendaftarkan barang kami,” sapaku pada sepasang pria dan wanita yang duduk di sebuah meja yang bertandakan pendaftaran.
“Barang apa yang Anda miliki?” tanya sambil menyerahkan formulir.
“Buku-buku, jam dan beberapa hiasan rumah,” jawabku sambil memperlihatkan milikku.
“Kalung, buku dan lukisan,” jawab Anti. Meletakan barang di atas meja tersebut.
Kami mengisi formulir yang diberikan dan menanti giliran kami. Mereka berjalan mondar-mandir. Membawa buku seni, buku sejarah, bahkan kaca pembesar. Tahun pembuatan, jenis barang, jenis materi, kondisi barang.  Terdengar teriakan dari berbagai penjuru.
“Barang-barang antique mudah rusak!”
“ Jangan dipegang dengan tangan!”
“Jangan disentuh!” teriak seorang pria
“Acara segera dimulai!” jerit produser.
“Anda dapat menuju meja nomor satu!” ucap seorang wanita padaku. Menyuruhku menuju meja yang berada di bagian belakang.
“Anda menuju meja nomor dua!” ucap wanita tersebut pada Anti. Menunjuk meja yang berada di bagian kanan.
Aku mendatangi meja nomor satu. Meletakan barangku di atas meja.Seorang pria mendatangiku. Tersenyum. Duduk dihadapanku.
“Jam yang Anda miliki adalah Patek Phillipe watch. Dapatkah Anda menjelakan sejarah jam ini?” tanya pria yang bernama  Paul Hartquist. Seorang  ahli perhiasan dari  St. Paul, Minnesota.
Aku terkesima. Apa yang harus aku katakan? Aku mengerutkan keningku. Merajut cerita di kepalaku.
“Jam ini pemberian seorang teman. Keluarganya kolektible barang-barang antique.”
“Tentulah Anda seorang yang istimewa untuknya!” cetus Paul. Bibirnya mengukir senyuman.
“ This is incredible craftsmanship of the Patek Phillipe Company di tahun 1914!” ucap Paul. Kepalanya mengeleng-geleng. Kagum!
“Terbuat dari 37 kristal dan 18 karat emas! Hanya satu diproduksi. Jam ini terawat dengan baik. Lihat masih berfungsi jam, tanggal, bulan dan tahunnya. Bahkan masih terdengar bunyinya.  Jam ini berasal dari Geneva, Switzerland,” tambah Paul.  Matanya berbinar-binar. Terpesona.
Aku hanya mengangguk-angukan kepala. Tidak tahu harus berkata apa. Barang itu baru beberapa jam aku miliki!
“Anda tahu berapa harga jam ini sekarang?”
Aku yang terbius oleh perkataan Paul, terjaga. “Aku tidak tahu!”  cetusku.
“Jam ini berharga $250,000!” ucapnya tajam.
Mataku melotot. Mulutku terbuka. Terkejut! “Anda yakin?”
“Tentu saja! Benda ini hanya ada satu di dunia! Dan kondisinya seperti baru!”  tegas Paul.
Rasanya tubuhku melayang. Benda yang ada di hadapanku adalah benda termahal yang aku miliki selama hidupku!  Apa yang akan aku lakukan dengan jam ini?
“Ini kartu nama saya. Jika Anda tertarik menjualnya,” ucap Paul sambil memberikan kartu nama padaku. Pergi meninggalkanku yang masih di awan.
“Hello, saya Thomas Lecky,” sapa seorang pria. Aku hanya tersenyum menjawabnya.
“Anda memiliki buku yang ditanda tangani oleh Oscar Wilde. You have an incredible eye for rare books,” puja Thomas.
“Terimakasih. Buku ini pemberian seorang teman,” jelasku. Jika dia tahu aku mendapatkannya di dump trunk tentu dia akan mengejekku, hatiku berkata.
“ The Picture of Dorian Gray, by the flamboyant Irish writer Oscar Wilde.” Thomas membaca kalimat yang terdapat di sampul dan memperhatikan tanda tangan yang berada di bagian judul buku. Kemudian membuka buku tersebut.
“Ada beberapa kerusakan di halaman buku ini, tetapi itu normal. Kertasnya mudah robek dan sangat tipis,” ucapnya sambil matanya terus menjelajahi setiap halaman buku tersebut.
“Apakah ada keistimewaan yang lain?” tanyaku penasaran.
“Ya! Buku ini edisinya terbatas! Hanya 250 buku di cetak! Buku-buku Oscar Wilde sangat diminati collector!”
Aku terdiam mendengar penjelasannya. Dadaku berdebar kencang. Apakah buku ini nilainya sangat berharga sama seperti jam tadi? Berarti buku-buku satu kotak yang ada di dump trunk tadi? Mestinya aku bawa semuanya!
“Anda tahu berapa nilai buku ini saat ini?” tanya Thomas, Matanya menatap wajahku.
“Ntahlah saya tidak punya ide untuk itu.”
“Buku ini dikeluarkan tahun 1891! Nah sekarang berapa menurut Anda?
“Mungkin sekitar $500,” dugaku.
Dia tertawa mendengar tebakanku. “Pasti Anda terkejut jika saya mengatakan buku ini berharga antara $8,000 – $12,000!” tebaknya.
“Apa! Semahal itu!,” teriakku. Mataku terbelalak. Kupegang buku tua yang lusuh tersebut. Kuamati buku tersebut tidak ada yang istimewa! Benar-benar aneh!
“Tenang… tenang…!” ucap lelaki itu. “Wajar jika anda menilainya dari bentuk buku ini. Tetapi lihatlah sejarahnya. Keistimewaannya! Tanda tangan dan edisinya terbatas.”
Tiba-tiba aku menjadi kaya mendadak! Tidak masuk akal! Hanya karena aku memiliki jam dan buku ini aku menjadi kaya! Bisa seribu microwave aku beli dengan menjual benda-benda ini. “Dimanakah aku dapat menjual buku ini?” tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di benakku.
“Anda bisa mengadakan lelang ataupun menjualnya pada  perusahaan galeri seni.”
“Oh..!”
“Ok, enjoy your book!”
“Terimakasih!” Aku masih terpesona dengan keajaiban di hadapanku. Apakah, aku berhak atas barang-barang ini? Perasaaan aneh menyelinap dihatiku.  Tiba-tiba Anti memukul pundakku.
“Mbak.. ., aku kaya!” ungkap Anti sambil melompat-lompat. “Lihat… kalung ini bernilai $4,000! Ini Tibetan wedding necklace. Menurut  Marley Rabstenek, an independent appraiser in Brooklyn, New York,” lanjut Anti.
“Aku juga!” balasku. Kegembiraan terbias diwajahku. Tiba-tiba mataku menangkap seorang lelaki tua yang memperhatikan kami. “Anti, ayo pulang!” Aku menarik tangan Anti.  Tiba-tiba hatiku cemas. Barang yang kami miliki adalah barang berharga. Bagaimana jika pria tersebut bermaksud jahat?  Hatiku semakin cemas.
Kami melangkah lebar-lebar. Menuju mobil.
“Anti, jam ini berharga $250,000! Dan buku ini berkisar $8,000 – $12,000!”
Anti melotot padaku. “Mahal sekali!” teriaknya. Matanya melotot pada jam dan bukuku.
“Hey, lihat kedepan!” perintahku. “Nanti kamu nabrak!”
“Maaf…. Mbak!”
“Anti, aku takut!” ungkapku. Tiba-tiba ketakutan memenuhi rongga hatiku. “Ayo kita ke Brandon Places!” pintaku.
“Mengapa?! Bukankah ini sudah menjadi milik kita! Bukankah dia tidak menginginkannya!” Anti menatap keheranan padaku.
“Tetapi itu karena lelaki tersebut tidak tahu! Ayolah…!”
Anti mengangkat sepasang bahunya. “Baiklah…,” lirih Anti berkata.
“Anti, ada apa ini mengapa banyak fire engine dan ambulance?!” Terlihat 5 mobil pemadam kebakaran. 3 Ambulances dan beberapa mobil polisi di kawasan Brandon Palces.
“Mbak, kebakaran di rumah pemuda tersebut!” teriak Anti.
Kami bergegas turun. Berjalan kaki. Menembus kerumunan yang berada di sekitar rumah yang terbakar.
“Innallilahi…,” ujarku pada Anti.
Anti membisu. Menatap rumah yang hitam tersebut. “Mbak, itu lelaki tersebut!” Anti menunjuk pada lelaki yang duduk di dalam mobil ambulance.
Kami bergegas menghampiri lelaki yang terbalut perban. “Hi..,” sapa kami.
Lelaki tersebut memandang kami dengan kesedihan mengantung dipelupuk matanya. “Aku terlalu letih! Saat itu aku tertidur dengan rokok dijemariku. Tanpa aku sadari terjatuh. Melahap buku-buku yang ada dibawahnya!” dengan suara parau dia bercerita.
“Syukurlah Anda selamat!” hiburku.
Lelaki itu tersenyum kecut! “Aku tidak tahu mengapa aku bisa selamat diantara jilatan api yang melahap seluruh barang di dalam  rumahku,” terangnya. Memandang kedepan mencari jawaban. Menatap wajahku dan Anti. Menghela nafas panjang. “Dan yang lebih aneh lagi barang-barang yang aku letakan di dump trunk semuanya terbakar juga!” cetus lelaki itu. Mengalihkan  pandangannya ke  seberang jalan.
Aku dan Anti membalikkan badan.  Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Semuanya tinggal abu tidak ada yang tersisa! “Bagaimana mungkin?!” ujarku.
“Mbak, mungkin orangtua lelaki ini yang melakukannya,” bisik Anti
“Hus! Mereka sudah meninggal,” bantahku berbisik. Lelaki dihadapanku termenung. Kasihan dia!
“Anti, ayo ikut aku!” ajakku pada Anti. Menarik tangannya. Berjalan menuju mobil.
“Ada apa mbak?! “Mengapa tergesa-gesa!”
“Kita harus mengembalikan barang-barang itu!” tegasku pada Anti.
“Tetapi barang itu sudah milik kita!” bantah Anti.
Aku berhenti berjalan. “ Iya, tetapi lelaki itu lebih berhak! Dan dia sedang mendapat bencana!” terangku. Menatap Anti dengan tajam.
“Baiklah!” ucapnya lirih.

Kami keluarkan semua barang yang kami dapatkan dari rumahnya. Berjalan menghampiri lelaki yang sedang tertunduk. Petugas kebakaran dan polisi masih sibuk beraktifitas. Polisi mengumpulkan bukti-bukti.  Mengkais-kais dalam debu yang tersisa.
“Ini untukmu! Semua barang ini kami kembalikan,” sapaku. Menunjukan barang yang  kami bawa.
Lelaki itu menatap barang-barang tersebut. Keningnya mengkerut. “Aku tidak butuh barang-barang tua ini. Simpanlah untukmu!” umpatnya.
“Barang-barang ini barang berharga!  Dengan menjualnya kamu bisa membeli rumah baru. Membiayai hidupmu!” semburku.
Matanya melotot padaku. “Kamu kira gurauanmu lucu!” bentaknya.
Anti menyentuh tanganku. Aku terdiam. Kutarik nafas panjang. Menahan kemarahanku. Ingin ditolong malah marah!  Kalau bukan karena kamu sedang dapat musibah!  Aku sudah kaya!
“ Bawalah jam ini ke alamat ini,” pintaku. Menyerahkan kartu nama.
“Jan ini berharga $250,000! Kami baru pulang dari Antique Road Show,” tambahku.
“Kalung ini bernilai $4,000,” ucap Anti. Menunjukan sebuah kalung.
“Buku yang kamu buang di dump trunk ini bernilai $8,000 – $12,000,” timpalku.
Mata lelaki itu membesar kembali. Mulutnya terbuka. Diam tak bersuara.
“Hey, jangan benggong saja,” bentak Anti.
“Jadi orangtuaku tidak berbohong!” sesalnya.
Anti dan aku berpandangan. Tersenyum bersamaan.
“Sudahlah jangan bersedih!” hibur Anti.
“Iya, barang-barang ini sekarang milikmu,” tambahku. Menyerahkan barang yang ditanganku kepada lelaki yang masih menyesal.
“Mengapa kalian baik sekali?” tanyanya. Menatap Anti dan aku bergantian.
Aku berpandangan kembali dengan Anti. Tersenyum pada Anti. Memegang tangannya.
“Karena kami memiliki hati,” ucap Anti.
Kami tersenyum pada lelaki itu. Kutarik tangan Anti agar berlalu. Aku membalikan badanku. Seorang lelaki tua berdiri diatas debu di seberang jalan. Dia tersenyum padaku. Kubalas senyumannya.
“Hey, bukankah lelaki itu yang memperhatikan kita di acara show tadi!” ingatku pada Anti. Menunjukan pada dump trunk.
“Lelaki yang mana?” tanya Anti keheranan.
“Itu..!” tunjukku. Dan lelaki itu pun dihembus angin

Tuscaloosa, September 2004
Cerpen ini sudah terbit di Alia beberapa tahun yang lalu. Tetapi judulnya diganti jadi Perempuan-Perempuan Pemburu Harta.

2 Responses leave one →
  1. 2009 April 7

    aduh ceritanya menarik sekali, bagus

  2. 2010 April 17

    anda menulis cepat, mengalir, lancar..
    sy lebih senang membaca fiksi seperti ini.. dialogx padat.. tdk bertele-tele..
    makasih atas cerpenx..

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS