Puzzle

2009 April 1
tags:
by Meidya Derni

puzzleSetiap kali saya menatap lekat mata itu,  saya merasakan derita disitu. Seakan saya menatap telaga dengan riak-riak tersembunyi di balik bening yang mengalir. Tapi itu tak lama, karena mata itu akan beralih. Menatap jauh ke depan meninggalkan saya yang termangu. Mencoba menerka merangkai cerita yang menyerupai puzzle.

Saya tak tahu mengapa saya ingin menyusun puzzle itu.  Mungkin karena telaga itu tak lagi tenang. Saya tak lagi duduk dengan tenang di tepinya. Tak dapat melihat jernih ke dalamnya.  Berkaca pada airnya dengan jelas. Mencermati wajah saya dekat-dekat dengan mata lebar-lebar.

Atau mungkin untuk pemuas diri. Agar tanya itu hilang, tak lagi mengusik. Makan pikiran dan waktu saya. Seperti tikus yang menyantap keju merah bola, perlahan, dikit-dikit, hingga tak lagi utuh.

Atau mungkin karena iri, tak memiliki telaga dengan air bening itu.  Lalu mencari sela untuk mencuri bening seember agar tak lagi penuh. Dua ember, tiga ember, semua, kalau bisa hingga kering.

Saya mengenalnya tak dalam. Mungkin karena dia terlalu sempurna untuk menjadi teman saya. Terlalu bersih untuk saya yang senang bermain tanah. Terlalu lembut untuk saya kunyah dengan taring saya.

Walaupun dia sering bercerita. Memberikan potongan-potongan puzzle kecil-kecil, sedikit-sedikit. Lalu saya akan menyusunnya perlahan, tak ingin hilang, ataupun diterbangkan angin.

Dia bukan wanita biasa, itu kata orang disekitarnya. Dia bintang yang menerangi malam, dengan kerlipan kecil-kecil.  Indah untuk ditonton dari bumi, bagi mereka penikmat malam.

Dia pagar yang melindungi taman.  Kuat dan kokoh.  Tak goyah digocang angin ataupun mereka yang ingin menyelinap masuk dari sela-sel mencuri bunga lalu membawanya pergi.

Dia lukisan yang dipaku di dinding. Cantik menghibur dengan sapuan-sapuan kuas tajam.
Warnanya pun tak sama.  Ada hijau, merah, kuning, biru, jingga, hitam dan merah muda. Warna-warna yang tak membosankan.

Tapi itu kata mereka, bagi saya tak penting.

Hari ini saya mendapatkannya kebetulan. Dia sedang termenung dalam. Mungkin dia ingin memberikan puzzle terakhir, agar saya dapat menyelesaikannya. Tetapi saya salah, dia hanya tersenyum paksa.

Saya diam menatap diam-diam ke dalam telaga bening itu. Riak itu menyembul jatuh. Mengalir satu-satu. Perlahan membentuk butiran-butiran bening. Telaga itu pun berkabut.
Dia menghapus dengan punggung tangannya.

Dia semeter dihadapan saya. Matanya di mata saya. Air kering kaku di pipinya. Dia melihat tanah. Bibirnya bergetar menahan kata. Semenit berlalu. Dia berkata lirih. ”Cinta itu luka.”

Ah, selesai sudah puzzle itu.

Benang kusut! Rumit, mengikat, terpaut, tak tahu dimana ujungya. Semakin ditarik semakin kusut. Kaitan helai-helai semakin kokoh.  Jika dipaksakan malah melukai. Digunting, terputus, banyak ujung.  Mungkin cinta seperti itu. Tak bisa diuraikan dengan kata-kata, karena itu bukan kalimat. Tak ada logika, karena itu bukan teori.

”Aku bertemu dengannya suatu hari. Tak ada getar, tak ada rasa. Tak ada yang perlu dicermati. Tak ada yang perlu diminati,  biasa saja, tak ada yang istimewa. Tak ada yang melekat dalam memori.

Kami berhenti sesaat, menyapa sejenak, basa-basi. Lalu berlalu menghilang.  Tak ada yang tertinggal di diri saat itu. Perjumpaan-perjumpaan terjadi. Tak ada rencana, tak ada janji, semua hanya kebetulan.

Tak lama kami bicara tentang hari, tentang waktu yang dihabiskan. Tentang apa saja yang dapat dikatakan. Menikmati cerita tak tentu. Mungkin kami hanya ingin mengulur waktu. Sedetik, semenit, sejam kalau bisa.

Lalu kami pun berjanji untuk bertemu lagi dan lagi. Entahlah untuk apa, tak ada hal penting yang wajib dibicarakan. Tak ada yang perlu dijelaskan. Tetapi kami ingin bertemu, seperti ingin melepas rasa.

Rasa itu tak dapat aku namai, otakku tak sanggup untuk menguraikannnya. Ada gairah setiap langkah kaki, ringan, melayang. Bernyanyi, tersenyum riang pada setiap orang yang aku temui. Padahal itu bukan diriku. Aku menjaga wibawaku, menjaga senyumku.

Jadwalku kacau. Rencana berantakan karena pertemuan itu. Semuanya menjadi abu-abu. Tak ada hitam, tak ada putih. Aku tak dapat membedakan. Tetapi aku lega, karena rasa itu hilang sementara.  Rasa itu kembali hadir saat pertemuan tak ada.

Aku marah pada waktu yang jalannya seperti siput. Aku ingin waktu berlari, hingga pertemuan itu semakin dekat. Kalau bisa tak ada waktu, hingga tak perlu pisah.

Aku bukan aku!

Aku tersenyum sendiri mengingat dirinya, walau tak ada yang lucu di wajahnya. Mencermati wajahnya setiap senti dalam ingatan.  Aku tak ingin lupa. Aku pun tak tahu apa sebabnya.

Aku melanggar aturan pada buku kusut yang dibolak-balik terus aku baca. Buku yang selalu kubawa-bawa, berisi tulisan kanan kiri, hurup bersambung. Membaca kalimat yang sama sejak diberikan oleh penciptanya.

Aku malu pada buku itu, hingga aku tak sanggup membukanya. Pada penciptanya yang selalu dapat menemuiku, walaupun aku bersembunyi dalam lemari terkunci. Aku berharap kalimat-kalimat itu tak ada dibuku itu, hingga aku tak berdosa.

Tetapi aku tak kuasa melawan rasa. Ada debar, ada sesak di dada jika aku menahannya hingga aku tak berdaya. Pikirku menetap disatu titik, tak dapat bergerak melakukan tugas.

Tubuhku lemas, tak berselera dengan sajian menu. Tenagaku habis. Aku mengunci diri di kamar. Tak ingin canda, tak ingin bicara, tak ingin suara. Temperaturku naik turun, tak menentu.

Aku malu! Aku malu pada mereka yang pamer salahku melalui tatap mata. Aku marah pada diriku. Mengapa aku tak dapat menahan rasa. Menyesali pertemuan itu. Tetapi dia membuat hariku berbeda dengan berbagai rasa. Kini aku berduka untuk sesuatu yang tak kumengerti.”

Mobile,  19 Januari 2008

*latihan nulis

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS