Bicara Tentang Pernikahan

2009 March 30
by Meidya Derni

catatan“Lho, Mbak belum tahu yach kalau mereka cerai?” terang seorang teman melalui telepon kepada saya.
“Ha, kenapa?” jawab saya kaget mendapat info yang tak pernah terlintas sebelumnya. Otak saya memutar kembali kenangan yang sudah saya lalui bersama keluarga tersebut.

Saya pun teringat bagaimana sang isteri berkata:” Mas itu sayang sekali sama aku Me. Kayaknya kalau untuk main perempuan bukan tipenya dech.” Puji sang isteri saat kami berdiskusi tentang masalah perempuan ketiga dalam pernikahan.

“Mas itu mau melakukan apa saja, termasuk menganti popok bayi.” Ucapnya saat kami berdiskusi tentang peran suami dalam pengasuhan anak.
“Me rasanya aku mau kabur saja. Mas terlalu sibuk dengan buku-bukunya. Aku dicuekin,” dengan kesedihan sang isteri bercerita.
Dan kini mereka bercerai? Perceraian tersebut disebabkan oleh kesalahpahaman, suatu masalah yang dapat diselesaikan.

Suatu siang, saat saya membalas email untuk teman yang berada di kota lain saya menuliskan.
“Sampaikan salam saya untuk sister H yach. Gimana apakah mereka sudah punya momongan?’ Tak lama saya pun mendapat email balasan.
“Sister H bercerai dengan suaminya. Mereka berbeda pendapat.”
Ha… mata saya membesar menatap pesan tersebut. Terbayang wajah sister H dengan mata berbinar-binar saat setelah menikah. Keceriaannya, senyumnya, tawanya saat bercerita betapa bahagianya dia karena sudah menikah. Betapa sedihnya dia karena pernikahan tersebut tidak direstui keluarganya.  Betapa kecewanya dia saat suaminya diremehkan oleh keluarganya. Betapa mereka berdua bertekad ingin membuktikan pada keluarga kelak mereka akan sukses dalam pendidikan dan ekonomi, hingga dapat dibangakan oleh keluarganya. Dan kini mereka bercerai?

“Mbak, aku khan cerai,” tulis seorang teman saat saya dan dia berbincang-bincang di YM.
“Oh ya!” Saya pun salah tingkah.

“Apakabar? Gimana khabar anak-anak dan suami?” Tanya saya pada seorang teman yang sudah 2 tahun tidak saya temui. Dua tahun dia hidup di Maroko lalu pindah ke Canada, agar dapat hidup bersama suaminya. Dia korbankan kuliah, keluarga, teman di USA demi membentuk keluarga sakinah.
“Oh, anak-anak baik. Sekarang saya sudah punya 2 anak?” jawabnya dengan tersenyum.
“Lalu apakah sekarang suami sudah di USA? Sudah dapat green card?” tanya saya lagi.
“Oh dia di negaranya. Kami sudah bercerai.” jawabnya ringan
Saya diam seketika, tak tahu harus berkata apa.

Ya Allah, mengapa banyak sekali teman saya bercerai? Pertanyaan tersebut membuat saya merenung. Saya ingin membantu mereka yang memiliki masalah dalam rumah tangganya. Bercerai hanya karena masalah perbedaan pendapat, ketidakcocokan, bukan masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Saya pun merenungi pernikahan saya. Memutar kembali masa-masa krisis itu. Hasil perenungan tersebut saya tuliskan menjadi sebuah naskah yang selanjutnya menjadi sebuah buku Catatan Hati Sang Isteri

Saya berharap semoga apa yang saya tuliskan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Bagi mereka yang akan menikah. Bagi suami ataupun isteri agar dapat memahami pasangannya masing-masing. Semoga Allah meridhoi usaha saya.

5 Responses leave one →
  1. 2009 April 15

    mbak, saya mendapat banyak ilmu di sini, mudah2an sy yang masih baru menikah (sekitar6 bulan), dan tergolong pernikahan di usia muda (waktu menikah sy 21 thn/udh lu2s kuliah dan suami 23th) dpt melewati smua riak dan gelombang=) dan mdh2an sampai nanti, menikah sekali seumur hdp….

    makasih ilmunya mbk….

  2. 2009 April 16

    Alhamdulilah, semoga pernikahannya langeng yach

  3. 2009 July 20

    assalammualaikum wr wb,

    sudah lama liat buku ini di dunia maya. dan baru berkunjung ke web nya mbak me:)
    salalm kenal mbak me

    waalaikumsalam wr wb

  4. 2009 July 20

    walaikumsalam. Terimakasih untuk kunjungannya 🙂

  5. 2010 May 1
    humairahummi permalink

    assalamualaikum.. tahniah kerana menghasilkan satu buku yang sangat baik, motivasi kami suami isteri. saya terjumpa buku ini ketika singah di tepi highway ketika pulang dari kuliah master di universiti Kebangsaan Malaysia.Tajuk buku ini sangat menarik perhatian saya.Seperti kami, pada awal perkahwinan sering berlaku berselisihan pendapat sehinggakan membawa kepada pertengkaran besar . walaupun disebabkan benda yang remeh temeh, di Tambah pula , saya dan suami adalah Pegawai Polis yang mempunyai kerja yang sangat mendesak dan ditambah lagi saya sedang membuat master saya dan perlu mengurus anak serta rumah..d day b4, saya sengaja letakan buku tersebut di ruangtamu hehe… semalam, ketika saya dan suami hendak uruskan cukai, beliau telah memberikan saya satu bunga ros yang sangat cantik,. heheh dan satu buku tajuk kekeluargaan.. dia kata dia dah baca buku di ruang tamu itu.. saya pun senyum je la.. hehehe…harap kite boleh menjadi kenalan dan bertukar-tukar pendapat.. salam ukhwah… wasalam..

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS