Terapi Menulis

2009 March 26
by Meidya Derni

adilaSaat tulisan selesai ditulis, diedit, diedit ulang, diedit kembali, disampaikan kepada redaksi tibalah waktunya menunggu. Ada debaran, ada gejolak , berharap cemas seakan menanti seseorang yang dicintai. Ketika editor menyetujui, hati berbunga-bunga. Penantian pun berlanjut, pikiran mengembara, menduga-duga bagaimana bentuk bukunya kelak? Bagaimana cover depannya, apa judul bukunya, bagaimana layout-nya, editing akhir. Saat melihat wujud buku tersebut menguap sudah segala pertanyaan. Lalu muncul pertanyaan baru apakah buku saya akan disukai pembacanya? Alhamdulilah buku saya baru terbit lagi 🙂

Sungguh menulis membuat hidup orang menjadi bergairah. Hari tak lagi satu warna, ada warna-warni lainnya yang menanti. Ada kecemasan, ada penantian, ada gairah, ada letupan, ada loncatan riang, ada mimpi-mimpi indah. Untuk itu jika Anda merasa bosan dengan rutinitas sehari-hari cobalah melakukan therapy menulis. Mulailah dari membuat jurnal, apalagi sekarang sudah banyak fasilitas gratis untuk menulis jurnal. Bahkan dilengkapi dengan gambar dan tampilan yang menarik.

Saya sependapat dengan artikel yang disampaikan di Republika dibawah ini, bagaimana dengan Anda?

Jika anda menyenangi puisi dan suka menulis, tahukah anda, kebiasaan tersebut ternyata mempengaruhi perkembangan mental dan psikologi diri anda. Demikian hasil peneilitian yang dilakukan lembaga Masyarakat Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat, AAAS baru-baru ini.

Menaruh pulpen di atas kertas membantu otak mengatur emosi dan mengurangi perasaan takut dan marah. Peneliti menyatakan,menulis pengalamam pribadi memiliki efek “pencuci perut” karena sebagian otak terhubung dengan pemicu emosi dan aktivitas di sekitar wilayah otak yang berhubungan dengan kontrol diri.

Kualitas dari lirik atau prosa yang dibuat tidak berpengaruh terhadap penulis. Berdasarkan fakta, ilmuwan menduga jika tulisan sedikit membeberkan kesan hidup dan pengalaman akan berpengaruh baik. Sekarang para peneliti berharap mengembang suatu terapi yang mendasarkan penemuan mereka, yang kemudian bisa digunakan untuk menghilangkan ketakutan sosial atau fobia.

Ahli Saraf Universitas California,Dr. matthew Lieberman kemudian memberi nama penemuan AAAS dengan sebutan “menaruh perasaan ke dalam tulisan”. Dia menuturkan,mengekpresikan diri lewat tulisan merupakan “pengaturan emosi yang tak disengaja”.”Hal tersebut terlihat untuk mengatur kita dalam keadaan sulit,” ujarnya.

Masyarakat,dinilainya,meremehkan aturan untuk duduk ketika emosi padahal dibaliknya terdapat manfaat. “Saya pikir, penemuan mengungkapkan alasan mengapa masyarakat menulis diari atau menulis lirik buruk pada lagu, sesuatu yang tidak akan pernah dimainkan di radio,” ujarnya.

Dr Lieberman membuktikan keampuhan terapi menulis dengan membaca sekilas 30 otak individu saat mereka menguraikan gambar-gambar menyusahkan. Dia menemukan, menulis akan mengurangi aktivitas amygdala, bagian otak yang terhubung dengan emosi dan ketakutan dan meningkatkan aktivitas bagian depan korteks, pengatur pikiran. Dia menduga, lebih banyak menulis mengenai emosi jiwa akan menurunkan tekanan pada otak dan membangun keseimbangan mental.

Meskipun Lieberman tidak begitu mengerti efek dari terapi menulis namun hal itu telah dibuktikan. “Jika anda bertanya kepada masyarakat kemudian mereka tidak berpikir, menulis akan mempengaruhi pengaturan emosi, tetapi ketika anda melihat otak, baru anda dapat melihat apa yang sedang terjadi,” ujarnya.

“Semakin kita menggunakan otak depan, semakin kecil respon amygdala.  Terlihat adanya efek dilihat-dan melihat” tambahnya. Dipercobaan lain, menulis dapat digunakan untuk mengawali terapi bagi masyarakat yang takut terhadap laba-laba.

Dengan menulis ketakutan yang mereka miliki akan memiliki hasil berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat yang tidak menulis ketakutan mereka. “Kami tidak berpikir bahwa ini merupakan bagian dari aplikasi klinis,” ujar Lieberman.

Namun, menurutnya, efek akan menjadi negatif jika menulis terlalu gamblang atau detail karena akan mengingatkan mereka terhadap trauma yang dilalui. ” Anda menulis untuk melupakan bukan untuk mengingat,” katanya.

Maka dapat diketahui mengapa kadang penulis ditemukan memiliki masalah kejiwaan, karena menulis memungkinkan mereka tetap bereaksi terhadap beberapa masalah emosi.

“Saya sangat yakin itu juga merupakan bagian motivasi mereka untuk menulis,” tukasnya. “Anda bisa bayangkan akan jadi apa, mereka tanpa menulis,” pungkasnya./telegraph/cr2/itz

One Response leave one →
  1. 2009 November 17

    thanks tulisannya, sekalian ijin tuk di cuplik nih

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS