Mengapa Menikah?

2009 March 15
by Meidya Derni

ringJamaah sholat Isya bubar. Saya melangkah pendek-pendek menuju ruangan yang berada di depan ruang sholat. Ruang yang dipakai untuk singgah sejenak, menyapa lalu kembali larut dalam hingar binggar dunia. Atau membahas masalah serius hingga nafas memburu menahan gelombang tsunami di dada. Atau menyemai kasih persaudaraan  Islam.

Pada sofa bermotif bunga-bunga yang usang saya berlabuh sejenak. Menyapa lalu menjadi patung sampai ada yang menyadari kebisuan saya. Tersenyum lalu berkata dalam bahasa yang saya mengerti. Bukan bahasa yang hanya bisa saya baca tetapi tidak tahu maknanya.

”Sister, carikan suami untuk sister Dina?” Isteri Imam masjid yang duduk di sebelah saya berkata. Sister Dina berasal dari Indonesia.

”Dia punya pacar, ngapain saya sibuk mencarikan jodohnya.”

”Apa?! Di Indonesia?! Negara mayoritas Muslim!” Matanya terbelalak.

”Lho bukannya di negara Arab juga begitu?!” Mata-mata yang hadir di ruang tersebut semuanya tertuju pada saya.

”No!  Itu haram!” tanpa aba-aba  serentak menjawab.

”Ok! Saya tahu itu haram.” Sebelum saya dihakimi saya harus sejutu. Untuk membuktikan persetujuan saya pun menceritakan pernikahan saya tanpa pacaran, tidak kenal sebelumnya. Mulailah cerita tentang pernikahan mengalir dari bibir-bibir yang hadir.

Dijodohkan dengan sepupu, saudara dekat, kenalan, keluarga mengenal calon sejak kecil itulah yang dialami mereka yang hadir. Semuanya patuh pada perjodohan tersebut. ”Wah kisah Siti Nurbaya tidak laku di negeri mereka,” ucap saya dalam hati.

”Kenapa kita mesti menikah,” seorang yang belum menikah bertanya matanya membidik kami satu-satu.

”Jangan bilang ibadah ataupun ½ dien ataupun mengikuti sunnah, karena saya sudah tahu itu.” Sebelum diceramahi dia memprotek dirinya dulu. ”Disini juga orang pacaran ujung-ujungnya pernikahan. Kenapa ada yang gagal, ada yang bahagia.  Kalau ujungnya untuk kebahagiaan, tidak nikah juga bahagia.”

”Itu berbeda,” ungkap salah satu yang hadir. Yang lainnya hanya pasang senyuman sambil mencerna dan bertanya pada diri sendiri. (Meidya Derni)

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS