Saat saya dan suami mengisi acara bincang-bincang buku “Happy Parenting” di salah satu stasiun radio di Indonesia, seorang pendengar bertanya pada kami. “Apa enaknya jadi orangtua?” Pertanyaan tersebut tentulah wajar jika kita berpikir betapa sulitnya jadi orangtua.
- Author: Meidya Derni
- Published: Dec 5th, 2009
- Category: Inpirasi, Pasutri, Renungan
- Comments: None
Bunga Kehidupan
- Author: Meidya Derni
- Published: May 18th, 2009
- Category: Pasutri, Perempuan, Renungan
- Comments: 4
Hanya Kewajiban Ibu?
Saat jam istirahat di Saturday School, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya. Saat itu salah satu teman saya yang sedang hamil berkata bahwa dia merasa sangat letih. “Ngurus anak, rumah, suami harus belanja, masak, bersih-bersih setiap hari membuat saya benar-benar letih dan jenuh.”
- Author: Meidya Derni
- Published: Apr 8th, 2009
- Category: Inpirasi, Pasutri, Renungan
- Comments: None
PeDe Bicara Dengan Suami
“Saya sudah membaca buku Catatan Cinta Sang Isteri. Saat membaca buku tersebut saya merasa Mbak sedang menuliskan kisah hidup saya. Terkadang saya merasa tidak sanggup lagi dan ingin cerai, tetapi setelah membaca buku tersebut saya mendapat pencerahan. Walaupun sampai saat ini saya masih berusaha untuk bisa bicara dengan suami. Susah Mbak bicara dengan suami.”
Demikian sepengal cuplikan email yang saya dapat dari pembaca buku yang saya tulis. Mungkin sebagian orang akan berpikir “masa bicara dengan suami tidak bisa” atau “bicara dengan suami saja takut”.
Tetapi itulah kenyataan yang terjadi dikehidupan kita. Tidak pandang tempat, ntah itu di Indonesia, di Amerika, di Jepang ataupun di negara lain. Masalah komunikasi pasangan sama seperti masalah komunikasi antara orangtua dan anak. Kedua belah pihak tidak menyadari bahwa sebenarnya ada sesuatu yang salah terhadap cara kita berkomunikasi.
- Author: Meidya Derni
- Published: Mar 30th, 2009
- Category: Inpirasi, Pasutri, Perempuan, Renungan
- Comments: 5
Bicara Tentang Pernikahan
“Lho, Mbak belum tahu yach kalau mereka cerai?” terang seorang teman melalui telepon kepada saya.
“Ha, kenapa?” jawab saya kaget mendapat info yang tak pernah terlintas sebelumnya. Otak saya memutar kembali kenangan yang sudah saya lalui bersama keluarga tersebut.
Saya pun teringat bagaimana sang isteri berkata:” Mas itu sayang sekali sama aku Me. Kayaknya kalau untuk main perempuan bukan tipenya dech.” Puji sang isteri saat kami berdiskusi tentang masalah perempuan ketiga dalam pernikahan.
- Author: Meidya Derni
- Published: Mar 15th, 2009
- Category: Pasutri, Renungan
- Comments: None
Mengapa Menikah?
Jamaah sholat Isya bubar. Saya melangkah pendek-pendek menuju ruangan yang berada di depan ruang sholat. Ruang yang dipakai untuk singgah sejenak, menyapa lalu kembali larut dalam hingar binggar dunia. Atau membahas masalah serius hingga nafas memburu menahan gelombang tsunami di dada. Atau menyemai kasih persaudaraan Islam.
Pada sofa bermotif bunga-bunga yang usang saya berlabuh sejenak. Menyapa lalu menjadi patung sampai ada yang menyadari kebisuan saya. Tersenyum lalu berkata dalam bahasa yang saya mengerti. Bukan bahasa yang hanya bisa saya baca tetapi tidak tahu maknanya.



